Peliknya Kasus WNI Terancam Hukuman Mati di Arab Saudi

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 07 May 2018 19:06 WIB
indonesia-arab saudiperlindungan wni
Peliknya Kasus WNI Terancam Hukuman Mati di Arab Saudi
Tenaga kerja Indonesia masih menjadi primadona di Arab Saudi (Foto: Media Indonesia).

Jakarta: Zaini Misrin, Siti Zainab, Karni, Yanti dan Ruyati merupakan segelintir nama yang harus merenggang nyawa karena hukuman mati di Arab Saudi. Kebanyakan dari mereka dituduh membunuh hingga menggunakan ilmu hitam.
 
Nasib mereka mungkin tidak semujur Masamah binti Rasuah Sanusi. Wanita asal Cirebon ini bebas dari hukuman mati setelah majikannya memberikan pengampunan kepada mereka.
 
(Baca: Masamah Akhirnya Kembali ke Keluarga).
 

Kasubdit Kawasan II Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia Arief Hidayat mengatakan meski pun pelik, Pemerintah Indonesia tetap memberikan pendampingan hukum, dan paling tidak, mencoba meminta keringanan hukuman bagi WNI.
 
"Kalau untuk kasus hukuman mati, kita melihat cukup beratnya kasus, terutama bukti yang sudah ada di situ dan pengakuan yang bersangkutan. Tapi intinya kita berupaya memberikan perlindungan dan pendampingan, seperti jaminan hak hukum serta menyediakan pengacara," ujar Arief di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Senin 7 Mei 2018.
 
Di Arab Saudi sendiri, kata Arief, keluarga korban memiliki hak paling tinggi. Bahkan, Raja Arab Saudi pun tidak bisa memberikan intervensi.
 
Arief menambahkan di Arab Saudi ada hak khusus yang diberikan pemerintah kepada keluarga korban. Bahkan, keluarga bisa saja mengintervensi keputusan pemerintah dengan hak tersebut.
 
Hal ini yang kemudian menjadi polemik, pasalnya ranah hukum negara lain tidak bisa diintervensi Pemerintah Indonesia. "Kita harus menghormati hukum negara lain, begitu pula negara lain harus menghormati hukum di kita," tukasnya.
 
Hingga saat ini, masih 20 WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Lima diantaranya dituding menggunakan ilmu hitam.
 
Arab Saudi sendiri memakai hukum syariat Islam dalam pedoman mereka. Hal tersebut harus diperhatikan para tenaga kerja Indonesia, maupun warga negara Indonesia yang hendak pergi beribadah haji atau umroh.
 
Di antara 20 WNI terancam hukuman mati yang terbilang cukup 'kritis' adalah Tuty Tusilawaty. Kasus Tuty menurut Arief cukup berat sehingga pengacara yang diajukan KBRI Riyadh harus mendalami bukti Berita Acara Pemeriksaan (BAP), salah satunya hasil visum korban.
 
"Hingga saat ini terus kita pelajari berkas-berkasnya supaya, paling tidak, meringankan hukuman yang bersangkutan," cetusnya.
 
Sementara untuk kasus Eti bin Toyib, hingga saat ini pihak perwakilan Indonesia di Arab Saudi tengah mencari donatur yang mau membantu menyelesaikan masalah Eti.
 
(Baca: Dubes Arab Saudi Siap Bantu 20 WNI Terancam Hukuman Mati).
 
Wanita tersebut telah diampuni keluarga majikannya, namun mereka meminta Eti membayar diyat.
 
"Awalnya sempat 30 juta real, kemudian turun jadi 15 juta. Lalu turun lagi menjadi delapan dan akhirnya sekarang sisa lima juta real yang harus dibayar ke majikan Eti. Minta doanya supaya semua dapat terselesaikan dengan baik," pungkas Arief.
 
Sementara itu, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Mohammed Abdullah Shuibi mengatakan pihaknya berjanji untuk membantu proses pembebasan para WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Meski demikian, ada syarat yang harus dibayar, yaitu menghormati hukum di Negeri Petro Dolar.


(FJR)