Kesaksian Staf Media TRT saat Percobaan Kudeta Turki

Willy Haryono    •    Sabtu, 25 Nov 2017 11:04 WIB
turkimikta
Kesaksian Staf Media TRT saat Percobaan Kudeta Turki
Fatih Sahingoz, Koordinator Divisi News TRT (tengah) dalam program MIKTA Journalists Meeting, di Ankara, 13-17 November 2017. (Foto: Metrotvnews.com/Willy Haryono)

Ankara: Kantor berita Turkish Radio and Television Corporation (TRT) merupakan salah satu sasaran utama para pelaku percobaan kudeta di Turki pada 15 Juli 2016 malam. Pelaku kudeta ingin menginformasikan seluruh warga Turki bahwa pemerintahan sah akan segera digulingkan. 

Fatih Sahingoz, Koordinator Divisi News TRT, menceritakan pengalamannya saat para pelaku kudeta mencoba memasuki gedung. 

"Mereka datang dan bilang sedang ada serangan teroris di luar. Mereka mengaku datang untuk melindungi kami," ucap dia, saat bertemu rombongan jurnalis dalam program MIKTA Journalists Meeting di Ankara, belum lama ini.

Petugas keamanan TRT tak percaya begitu saja. Setelah sempat beradu mulut, para pelaku kudeta memaksa masuk ke studio dan mengganti siaran saat itu menjadi ramalan cuaca yang terus diulang-ulang. 

Setelah itu, para pelaku menyekap semua staf TRT di suatu ruangan. Mereka tidak memasukkan beberapa staf teknis dan pembawa berita. 

"Presenter kami ditodong senjata api dan dipaksa mendeklarasikan kudeta," ungkap Sahingoz. Deklarasi kudeta pun berhasil dilakukan para pelaku.


Fatih Sahingoz menceritakan pengalaman saat kudeta. (Foto: Metrotvnews.com)

Khawatir memicu kepanikan di tengah warga, TRT berinisiatif mengakhiri siaran dengan mematikan langsung satelit miliknya. 

"Tidak ada korban tewas saat mereka datang, hanya ada beberapa petugas kami yang terluka dalam perkelahian di luar gedung," sebut Sahingoz.

Percobaan kudeta Turki menewaskan total 350 orang dan melukai 2.185 lainnya. Presiden Recep Tayyip Erdogan menuduh ulama Fethullah Gulen dan organisasinya, FETO, sebagai dalang di balik percobaan kudeta.  

TRT adalah kantor berita milik pemerintah Turki yang memiliki 15 saluran televisi dan 16 stasiun radio. TRT juga memiliki situs berita online yang tersedia dalam 41 bahasa. 

Dua tahun lalu, TRT membuat World Channel agar dapat menjangkau lebih banyak orang seperti kantor berita BBC dan CNN. Total staf TRT di Turki dan seluruh dunia berkisar 7.000. 

 


(WIL)