UNHCR Nobatkan Filantropis Indonesia sebagai Eminent Advocate

Arpan Rahman    •    Minggu, 20 Nov 2016 14:00 WIB
pbb
UNHCR Nobatkan Filantropis Indonesia sebagai <i>Eminent Advocate</i>
Founder Tahir Foundation Dato Sri Tahir memberikan kata sambutan pada konser Voice of Refugees (VOR) yang digagas isteri Duta Besar Norwegia di Indonesia Noor Sabah di Ciputra Artpreneur, Jakarta, 18 September 2016. (Foto: MI/PANCA SYURKANI)

Metrotvnews.com, Abu Dhabi: Badan Urusan Pengungsi Persatuan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menunjuk pengusaha asal Indonesia yang juga filantropis termasyhur, Dato’ Sri Tahir, sebagai Eminent Advocate (Pejuang Terkemuka). Upacara khusus penggelaran dihelat di Abu Dhabi, Jumat 18 November. 

Tahir menjadi orang ketiga yang dianugerahi penghargaan UNHCR atas kontribusi berharga dan tanpa pamrih kepada jutaan pengungsi. Dua pengusaha lainnya adalah Hamdi Ulukaya asal Amerika Serikat (AS) dan Sheikha Jawaher Al Qassimi dari Sharjah, Uni Emirat Arab. 

Eminent Advocate merupakan salah satu gelar kehormatan yang paling bergengsi dari UNHCR. Gelar ini diberikan kepada para pendukung yang paling berpengaruh dan berharga. 

"Saya senang dan merasa terhormat dinobatkan sebagai Eminent Advocate UNHCR yang pertama dari Asia," kata Tahir, dalam pernyataan pers UNHCR kepada metrotvnews.com, Sabtu (19/11/2016).

Tahir mengumumkan sumbangan USD10 juta demi mendukung pendidikan anak-anak pengungsi di seluruh dunia. Jumlah ini merupakan tambahan dari donasi USD2 juta yang ia sumbangkan sebelumnya pada tahun ini untuk Nobody Left Outside UNHCR. Kampanye bertujuan membuat tempat penampungan bagi dua juta pengungsi pada 2018.
 
Ia juga baru-baru ini mengunjungi lokasi pengungsian Suriah di Yordania, yang menjadi tuan rumah bagi lebih dari 650 ribu pengungsi. Ia menyumbangkan tambahan USD1 juta untuk program bantuan tunai UNHCR bagi pengungsi Suriah di Yordania dan menanggung biaya untuk 10 ribu jaket pelindung mereka di musim dingin mendatang.


Dato Sri Tahir. (Foto: MI)
 
"Dengan memberi, maka kamu akan mendapatkan. Ini keyakinan saya, seperti halnya diajarkan semua agama, bahwa kekayaan yang kita miliki bukanlah milik kita. Kita hanya mengelolanya, jadi terserah kepada kita untuk menjadi manajer yang baik," ucap Tahir, yang merupakan salah satu pengusaha terkaya dan paling dermawan di Indonesia.
 
Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi menyanjung Tahir karena kedermawanannya. "Saya sangat senang menerima Dato’ Sri Tahir sebagai Eminent Advocate UNHCR," katanya seraya memuji "komitmen nyata Dato’ Sri Tahir dalam memperjuangkan kesejahteraan pengungsi di seluruh dunia." 

Grandi menyerahkan piagam penghargaan dalam upacara penganugerahan yang menandai penunjukan Indonesia.
 
Tahir adalah pendiri dan presiden Mayapada Group Indonesia serta Tahir Foundation. Ia dikenal atas berbagai bantuan kemanusiaan yang diberikan melalui pendanaan signifikan. Komitmennya meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah pengungsi global dan dalam melibatkan rekan pengusaha lainnya untuk mendukung masalah pengungsi.
 
Di Asia, belum ada seorang pun yang menyumbang dana begitu besar bagi UNHCR. Sebagai penyumbang utama untuk kampanye Nobody Left Outside, ia telah dinobatkan sebagai seorang Champion atau pemimpin dari koalisi Global Shelter (Global Shelter Coalition). Koalisi ini menyerukan para pemimpin sektor swasta bekerja sama dengan UNHCR dalam mengadakan dan meningkatkan solusi penampungan bagi pengungsi di seluruh dunia.


Pengungsi asal Suriah. (Foto: AFP)
 
Forced displacement atau terpinggirkan karena terpaksa telah meningkat tajam dalam satu dekade terakhir, sebagian besar akibat krisis di Suriah, dan bertambahnya konflik baru yang begitu cepat sementara yang lama belum selesai. Tanpa peningkatan dana, jutaan orang menghadapi ancaman hidup tanpa tempat tinggal yang memadai dan aman.
 
Sektor swasta menjadi sumber donor yang semakin penting bagi UNHCR, dengan kontribusi lebih dari delapan persen dari dana organisasi di tahun 2015. Individu dan perusahaan di sektor swasta menjadi mitra penting dan nyata, terutama dalam hal pemberian dana, keahlian teknis, kreativitas dan inovasi, serta sering diposisikan untuk mendorong perubahan kebijakan serta memengaruhi opini publik.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA