Rusia kembali Serang Aleppo

Arpan Rahman    •    Rabu, 16 Nov 2016 10:39 WIB
krisis suriah
Rusia kembali Serang Aleppo
Anggota pasukan pro rezim Suriah berjalan di distrik Dahiyet al-Assad, Aleppo, 12 November 2016. (Foto: AFP/GEORGE OURFALIAN)

Metrotvnews.com, Damaskus: Rusia telah mengumumkan rencana serangan udara besar-besaran di Suriah. Aktivis oposisi melaporkan serangan kembali terjadi di Aleppo bagian utara, setelah sempat berhenti sejak tiga pekan terakhir. 

Serangan dimulai beberapa jam setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump membahas urusan Suriah di telepon. Keduanya sepakat menggabungkan upaya memerangi apa yang disebut Kremlin sebagai musuh nomor satu -- "terorisme internasional dan ekstremisme."

Pemerintahan Presiden Barack Obama telah berusaha selama berbulan-bulan menegosiasikan gencatan senjata di Aleppo, pusat pertempuran antara Presiden Bashar al-Assad dan kelompok pemberontak yang berjuang menggulingkannya. Beberapa dari kelompok pemberontak menerima bantuan AS.

Dilansir Irish News dari Associated Press, Rabu (16/11/2016), afiliasi lokal Al-Qaeda berperang di pihak pemberontak, tetapi kelompok Islamic State (ISIS) tidak hadir di Aleppo.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan, dalam pertemuan dengan Putin pada Selasa 15 November, kapal induk Admiral Kuznetsov, yang berlayar ke pantai Suriah bulan lalu, akan ikut terlibat dalam konflik Suriah.

Dia berkata, pesawat tempur Rusia menargetkan depot amunisi, kamp pelatihan, dan pabrik persenjataan di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak dan pusat provinsi Homs. Shoigu tidak menyebut Aleppo.

Para aktivis melaporkan serangan di tiga tempat. Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan, rudal-rudal ditembakkan dari kapal perang Rusia di Mediterania menghantam daerah di Aleppo dan provinsi Idlib. SOHR juga menyebut, serangan udara melanda tiga kawasan di kota Aleppo, tapi tidak menyebutkan soal korban.

Aktivis Baraa al-Halaby, berbasis di Aleppo timur, mengatakan bahwa pesawat-pesawat tempur menembakkan rudal dan helikopter menjatuhkan bom barel di bagian timur kota terbesar Suriah.


Kehadiran Rusia dalam konflik Suriah

Aleppo Terkepung

Medio Oktober, Moskow mengaku akan menghentikan serangan udara mematikan supaya pemberontak dan pendukungnya meninggalkan Aleppo timur. Para pemberontak menolak tawaran itu, dan PBB gagal menegosiasikan pengiriman bantuan ke daerah yang terkepung.

Sabtu 12 November, pasukan pemerintah memukul mundur serangan pemberontak di bagian barat Aleppo yang dirancang untuk mematahkan pengepungan di timur kawasan pendudukan oposisi. Aleppo telah diperebutkan sejak 2012.

Pengepungan pasukan pemerintah membuat sekitar 275.000 warga terperangkap tanpa bantuan sejak Juli.

Sementara itu, dua badan PBB di Jenewa, mengatakan produksi pangan di Suriah telah menyusut ke "titik rendah", mengancam lebih banyak warga meninggalkan rumah mereka setelah perang saudara berkecemakuk selama lebih dari lima tahun.

Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan, faktor-faktor seperti kenaikan harga, cuaca buruk, ketidakstabilan umum, dan kurangnya pupuk serta benih bisa memaksa sebagian petani berhenti berproduksi.

Laporan bersama WFP-FAO membeberkan, daerah tanam di musim 2015-16 adalah lahan terkecil yang pernah ada di zona kekuasaan pemerintah, etnis Kurdi, dan oposisi bersenjata. Juru bicara WFP Bettina Luescher mengatakan pihaknya sulit mendapatkan informasi dari kawasan yang dikendalikan ISIS.

Wakil regional FAO Abdessalam Ould Ahmed mengatakan, 80 persen rumah tangga di Suriah tidak memiliki makanan atau uang belanja.


Warga Suriah menerima paket bantuan darurat. (Foto: AFP)


(WIL)