Polisi Zimbabwe Tuduh Wanita AS Sebar Tweet AntiMugabe

Arpan Rahman    •    Sabtu, 04 Nov 2017 14:37 WIB
zimbabwe
Polisi Zimbabwe Tuduh Wanita AS Sebar Tweet AntiMugabe
Robert Mugabe sudah memimpin Zimbabwe selama tiga dekade terakhir (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Harare: Polisi di Zimbabwe menuduh seorang wanita warga Amerika Serikat (AS) menulis sebuah tweet yang tampaknya menghina Presiden Robert Mugabe.
 
Martha O'Donovan, 25, dituduh karena menghina Mugabe sebagai "orang yang egois dan orang sakit". Tuduhan itu dibantah yang bersangkutan.
 
O'Donovan menghadapi tuduhan menghina presiden dan rencana untuk menggulingkan pemerintah, pengacaranya mengatakan kepada media AS.
 
Penangkapan itu tampaknya merupakan yang pertama dari jenis tuduhannya sejak kementerian siber negara itu dibentuk, bulan lalu. Tuduhan merencanakan penggulingan pemerintah dapat dikenai hukuman maksimal 20 tahun penjara.
 
O'Donovan, yang dilaporkan mengelola Magamba TV, sebuah saluran video satiris berbasis daring, "ditangkap saat penyergapan fajar di kediamannya di Harare," kata pengacara Zimbabwe untuk Hak Asasi Manusia (ZLHR) di sebuah postingan Facebook.
 
Polisi menuduhnya melakukan cuitan: "Kita dipimpin oleh orang yang egois dan sakit hati," dari akun Twitter @matigary, kata Obey Shava, pengacara ZLHR yang mewakili kliennya.
 
Tweet yang dipermasalahkan, tertanggal 11 Oktober, mencakup ilustrasi tentang seorang pria yang menggunakan kateter, serta foto Mugabe dengan lingkaran yang ditarik di sekitar bagian tengah tubuhnya.
 
Kedutaan Besar AS di Zimbabwe tidak segera menjawab permintaan untuk memberi komentar.
 
Dalam sebuah pernyataan kepada polisi yang dilihat oleh kantor berita BBC, O'Donovan dikatakan telah menepis "tuduhan yang diajukan terhadap saya sebagai tidak berdasar dan jahat".
 
Pihak ZLHR berkata bahwa penangkapan O'Donovan menandai "penangkapan terkait Twitter pertama kali" setelah pemerintah Zimbabwe menciptakan Kementerian Keamanan Siber, Deteksi Ancaman dan Mitigasi, bulan lalu.
 
Kritikus mengatakan bahwa kementerian baru tersebut merupakan upaya pemerintah memberantas pengguna media sosial.
 
"Penangkapan ini menandai dimulainya babak baru yang menyeramkan dalam larangan mendadak oleh pemerintah Zimbabwe mengenai kebebasan berbicara, dan medan tempur baru adalah media sosial," kata wakil direktur regional Amnesty International, Muleya Mwananyanda, seperti disitir BBC, Sabtu 4 November 2017.
 
Mugabe, 93, telah memimpin Zimbabwe selama tiga dekade terakhir. Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencabut penunjukannya sebagai duta kehormatan menyusul sebuah protes keras atas masalah hak asasi manusia.



(FJR)