ISIS Dikalahkan, PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Mosul

Fajar Nugraha    •    Selasa, 11 Jul 2017 15:30 WIB
isis
ISIS Dikalahkan, PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Mosul
Warga Mosul saat evakuasi menghindari perang (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Mosul: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa meskipun pertempuran melawan Islamic State (ISIS) di Mosul telah berakhir, krisis kemanusiaan bisa berlanjut lantaran ratusan ribu penduduk tidak dapat kembali ke rumah.
 
PBB memperkirakan sekitar 920.000 warga sipil melarikan diri dari rumah mereka di Mosul sejak upaya militer Irak merebut kota tersebut dari kendali ISIS sejak Oktober silam. Hampir 700.000 warga Mosul -- atau orang Moslaw -- tetap mengungsi dan tinggal di 19 kamp kemanusiaan Irak bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
 
Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB di Irak, pada Senin 10 Juli 2017 mengatakan bahwa 15 dari 54 pemukiman di Mosul barat rusak berat, sementara 23 lainnya rusak ringan -- yang menghambat kembalinya penduduk dengan aman.
 
Pihak Irak mengumumkan kemenangan di Mosul pada Minggu 9 Juli 2017. (Baca: PM Abadi: Irak Resmi Umumkan Kemenangan).
 
"Banyak orang yang melarikan diri telah kehilangan segalanya. Mereka membutuhkan tempat berlindung, makanan, perawatan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan peralatan darurat. Tingkat trauma yang kita lihat adalah yang tertinggi di mana yang dialami penduduk hampir tak terbayangkan," kata Grande. 
 
"Sangat melegakan mengetahui bahwa kampanye militer di Mosul akan berakhir, pertempuran bisa berakhir, tapi krisis kemanusiaan tidak," cetusnya, seperti dilansir UPI, Senin 10 Juli 2017.
 
PBB menyebutkan telah menerima 43 persen dari USD985 juta dana yang diperlukan demi memenuhi kebutuhan penduduk yang terkena dampak konflik yang dilakukan oleh ISIS.
 
Grande pada Januari sudah memperingatkan bisa jadi muncul krisis kemanusiaan sebagai 'warisan' kekalahan ISIS tersebut.
 
Namun, terlepas dari kehancuran yang terjadi di bawah pemerintahan ISIS, beberapa orang Moslaw bertekad mengembalikan kehidupan mereka. Di Mosul timur, yang dicaplok Irak pada akhir Januari, Rabah Mahmoud Ali dan keluarganya kembali ke rumah untuk menemukan atap dan lantai dasar rumah mereka rusak parah kena bom, Kantor Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB mengatakan dalam sebuah laporan.
 
 
Harta kekayaan keluarga itu dijarah dan semua jendela hancur berantakan. Demi memperbaiki rumahnya, Ali berkata dia mengambil sejumlah pinjaman. Ali, seorang guru, mencetuskan tekadnya ingin 'Mosul bangkit kembali' sesudah kekalahan ISIS, yang menguasai kota ini sejak 2014.
 
Ali mengaku senang mengajar lagi dan mengatakan bahwa murid-muridnya sangat ingin kembali bersekolah.
 
"Saya berhutang karena semua pekerjaan membangun rumah kembali, tapi saya optimis tentang masa depan," kata Ali. 
 
"Saya bisa melihat di mata murid-murid saya sekarang bahwa mereka sangat bertekad untuk menjadi siswa yang baik dan belajar. Seperti orang memulai hidup baru," tuturnya.
 
Pemerintah Irak memperkirakan dari sekitar 176.000 warga Moslaw mengungsi dari Mosul timur, berkisar 90 persen telah kembali.



(FJR)