Senjata Hamas Bisa Jadi Penghalang Persatuan Palestina

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 29 Nov 2017 17:44 WIB
palestinahamas
Senjata Hamas Bisa Jadi Penghalang Persatuan Palestina
Warga Palestina merayakan rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas (Foto: AFP).

Gaza: Otoritas Palestina akan menguasai Jalur Gaza pada Jumat mendatang. Ini merupakan kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani pada Oktober lalu.
 
 
Namun, Hamas dengan tegas menolak untuk melucuti senjata. Karenanya, wajah tertutup dengan balaclavas hitam dan AK-47 di tangan yang dilakukan Hamas, bisa menjadi masalah utama menuju persatuan Palestina.
 
Kontrol keamanan dapat menggagalkan kesepakatan yang telah ditunggu lama ini. Presiden Palestina Mahmud Abbas memperingatkan bahwa dia tidak menerima situasu yang serupa dengan Hizbullah di Lebanon.
 
"Senjata perlawanan adalah garis merah yang tidak dapat diperdebatkan. Senjata ini akan dipindahkan ke Tepi Barat untuk melawan pendudukan Israel. Ini adalah hak kita menolak pendudukan sampai berakhir," ujar wakil kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, menerangkan alasan kelompoknya masih memegang senjata tersebut, seperti dilansir dari laman AFP, Rabu, 29 November 2017.
 
Hamas sendiri menguasai Gaza pada 2007 dalam perang saudara dengan Fatah. Sebelum perang 2014, kelompok militan di Gaza diyakini memiliki total sekitar 10 ribu roket, termasuk 6 ribu untuk Hamas.
 
Otoritas Palestina (PA) dijadwalkan mengambil alih kekuasaan dari Hamas di Gaza pada 1 Desember di bawah perjanjian historis pada Oktober lalu. Namun penyerahan kekuasaan itu disebut-sebut hanya dibatasi pada urusan masyarakat sipil, bukan seluruhnya.
 
Sayap militer Hamas, yang beranggotakan sekitar 25 ribu orang, masih menjadi kekuatan utama di Jalur Gaza. Tidak ada indikasi mereka akan menyerahkan senjata secara sukarela.
 
Pejabat dari kelompok rival Hamas, Fatah, mengeluhkan lambatnya proses pemindahan kekuasaan di Gaza kepada PA. Penyerahan kekuasaan akan dianggap sebagai terobosan terbaru dalam menyatukan internal Palestina yang terbelah antar pendukung Hamas dan Fatah. 
 
Warga Gaza berharap penyerahan kekuasaan dapat mengakhiri penderitaan mereka yang selama hidup terperangkap. Akses air bersih dan listrik juga sulit didapat masyarakat Gaza di tengah blokade.



(FJR)