Emmerson Mnangagwa, 'Buaya' Buas di Dunia Politik Zimbabwe

Willy Haryono    •    Jumat, 24 Nov 2017 19:30 WIB
zimbabweemmerson mnangagwa
Emmerson Mnangagwa, 'Buaya' Buas di Dunia Politik Zimbabwe
Emmerson Mnangagwa. (Foto: AFP)

Harare: Emmerson Dambudzo Mnangagwa, pria yang memiliki julukan "buaya" atas kecerdikannya di dunia politik Zimbabwe, akhirnya mencapai ambisi menggantikan Robert Mugabe sebagai presiden. 

Mugabe, 93, mengundukan diri di tengah pengambilalihan militer dan demonstrasi massal -- semua dipicu usai dirinya memecat Mnangagwa di posisi wakil presiden. 

"Sang buaya," mungkin telah berhasil menggulingkan satu-satunya pemimpin Zimbabwe, tapi dirinya masih dikait-kaitkan dengan kejahatan terburuk di bawah partai Zanu-PF sejak kemerdekaan pada 1980. 

Seorang veteran yang pernah bekerja dengan Mnangagwa mendeskripsikan pribadi dari presiden baru: "Dia pria yang sangat, sangat kejam."

Namun anak Mnangagwa melihat sang ayah sebagai tokoh pemegang prinsip dan tidak terlalu sering memperlihatkan emosi. Anak perempuan Mnangagwa, Farai Mlotshwa, mengatakan kepada BBC Radio 4 bahwa ayahnya adalah sosok "lemah lembut."

Untuk memperkuat citra lembutnya ini, sebuah boneka buaya imut dibawa-bawa para pendukung partai Zanu-PF usai Mugabe mengundurkan diri dan Mnangagwa menjadi presiden. Mnangagwa resmi dilantik pada Jumat 24 November 2017. 

Politikus Josiah Hungwe dari Zanu-PF menyebut bahwa Mnangagwa tidak memiliki karisma kuat atau pandai berpidato, tapi lebih bersifat pragmatis. 

"Mnangagwa adalah tokoh yang berpikir praktis. Dia orang yang menganggap politik itu sebagai politik, tapi masyarakat tetap harus bisa makan." sebut Hungwe, yang mengungkapkan bahwa salah satu fokus presiden baru adalah mengangkat perekonomian Zimbabwe.

Siapa Emmerson Mnangagwa?

1. Dikenal sebagai sang "buaya" karena kelihaiannya dalam politik.

2. Memperoleh pelatihan militer di Tiongkok dan Mesir.

3. Disiksa pasukan Rhodesian usai "geng buaya" miliknya merancang serangkaian serangan.

4. Membantu perjuangan kemerdekaan Zimbabwe di era 1960 dan 1970-an.

5. Menjadi kepala mata-mata selama konflik sipil pada 1980-an, di mana ribuan warga tewas terbunuh. Dia membantah keterlibatan dalam pembantaian dan menyalahkan militer. 

6. Dituduh sebagai dalang di balik serangkaian serangan terhadap pendukung oposisi usai pemilihan umum 2008. 

7. Mengaku hendak menciptakan banyak lapangan pekerjaan dan terbuka terhadap reformasi ekonomi.

 


(WIL)