Amnesty Desak Pasokan Senjata ke Yaman Dihentikan

Arpan Rahman    •    Kamis, 07 Feb 2019 20:12 WIB
konflik yamankrisis yaman
Amnesty Desak Pasokan Senjata ke Yaman Dihentikan
Tentara pro-pemerintah Yaman dengan senjata yang digunakannya. (Foto: AFP).

Amman: Amnesty International mendesak pihak Barat harus berhenti memasok senjata kepada gerilyawan dalam konflik Yaman. Desakan menyusul laporan bahwa senjata itu jatuh ke tangan ekstremis.

"Proliferasi milisi yang tidak bertanggung jawab" di Yaman, didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA), "memperburuk krisis kemanusiaan dan menjadi ancaman yang semakin besar bagi penduduk sipil," kata peneliti Amnesty, Patrick Wilcken, seperti disitir dari laman Sky News, Kamis 7 Februari 2019.

“Senjata dari Inggris dan Amerika Serikat juga jatuh ke tangan militan Al Qaeda dan Islamic State (ISIS),” tambahnya.

Wilcken merujuk laporan terbaru oleh Reporters for Investigative Journalism Arab yang berbasis di Amman. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi, termasuk UEA, berperang di Yaman melawan pemberontak Houthi yang berpihak Iran sejak 2015.

Agustus lalu terungkap bahwa kesepakatan telah dilakukan untuk mengeluarkan senjata dan uang dari koalisi kepada militan terkait Al Qaeda yang berjuang bersama mereka melawan pemberontak.

Inggris dan AS terus memasok senjata ke koalisi sementara Jerman, Belanda, dan Norwegia membatasi kesepakatan senjata dengan sekutu.

Setidaknya 10.000 orang tewas dalam perang saudara, lebih dari tiga juta terlantar, 14 juta telah menderita di ambang kelaparan dan menyebabkan kekurangan gizi anak-anak massal dan kembali mewabahnya kolera.

Pembicaraan damai yang dimulai kembali di Swedia tahun lalu belum banyak  berarti. Sedangkan pertemuan yang disepakati di Yordania tentang pertukaran tahanan antara pemberontak Houthi dan pemerintah Yaman belum terjadi.

Masing-masing pihak meminta lebih banyak tahanan daripada yang ditahan. Tokoh Houthi, Abder Qader al Murtada, mengatakan pihaknya menahan pasukan UEA dan tahanan perang Saudi dan mereka ingin 7.500 gerilyawan Houthi sebagai tukarannya.

Kedua belah pihak tidak bertemu muka di Yordania tetapi berbicara melalui mediator PBB.

PBB juga bertemu dengan kedua pihak di kapal yang tertambat di lepas pantai Laut Merah Yaman dalam upaya menyetujui tawaran penarikan Houthi dari Hodeida, kota pelabuhan strategis dengan jalur ke utara negara itu.


(FJR)