AS Tuduh Hamas Gunakan Isu Kedubes untuk Serukan Kekerasan

Willy Haryono    •    Rabu, 16 May 2018 10:38 WIB
israel palestinapalestina israelhamas
AS Tuduh Hamas Gunakan Isu Kedubes untuk Serukan Kekerasan
Warga Palestina bentrok dengan pasukan Israel di sepanjang pagar perbatasan Jalur Gaza, 15 Mei 2018. (Foto: AFP/MAHMUD HAMS)

Washington: Hamas, kelompok penguasa Jalur Gaza, dituduh sengaja menggunakan isu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem sebagai "alasan" untuk menyerukan aksi kekerasan. 

Tuduhan dilayangkan Kementerian Luar Negeri AS, Selasa 15 Mei 2018, setelah 60 warga Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di sepanjang pagar perbatasan Jalur Gaza.

Juru bicara Kemenlu AS Heather Nauert menolak mengikuti langkah negara-negara Barat lain yang meminta Israel dan semua pihak terkait di perbatasan Gaza untuk menahan diri.

"(Konflik) kawasan tersebut sangat kompleks," ujar Nauert, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Meski AS "menyesalkan tewasnya sejumlah orang" di perbatasan Jalur Gaza, namun Nauert menegaskan bahwa posisi Gedung Putih adalah bahwa "Israel memiliki hak untuk membela diri."

Baca: 54 Dubes Boikot Perayaan Kedubes AS di Yerusalem

Nauert menolak menghubungkan aksi kekerasan dengan kedubes baru AS yang resmi dibuka Senin kemarin. Pemindahan kedubes dari Tel Aviv dilakukan usai Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pengakuan tersebut memicu unjuk rasa berujung bentrok sejak enam pekan lalu di sepanjang perbatasan Gaza-Israel.

"Kami telah melihat demonstrasi di sana sejak enam pekan lalu. Tidak ada hal baru," kata Nauert.

"Jika Hamas ingin menggunakan (isu kedubes) itu sebagai alasan untuk mendorong orang-orang berbuat kekerasan, maka itu adalah pilihan mereka. Itu pilihan yang tidak bertanggung jawab," lanjut dia.

Palestina memperingati "Nakba" atau "Bencana" pada Selasa kemarin, dalam peringatan terusirnya lebih dari 700 ribu warga pada perang 1948, yang juga menandai berdirinya negara Israel.

 


(WIL)