Baku Tembak Warnai Perebutan Kekuasaan di Kongo

Arpan Rahman    •    Selasa, 20 Dec 2016 12:12 WIB
konflik kongo
Baku Tembak Warnai Perebutan Kekuasaan di Kongo
Warga Kongo ditangkap oleh militer Kongo (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Kinshasa: Tembak-menembak meletus di beberapa kawasan kota Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, Selasa 20 Desember pagi. Tepat di saat penguasa Kongo sejak lama Presiden Joseph Kabila bersikukuh tetap menjabat meskipun mandatnya berakhir dan pemerintahan baru telah diumumkan.
 
Tembakan terdengar di sejumlah bagian kota yang dihuni 10 juta jiwa, terutama di dua kawasan utara setelah bunyi peluit --tanda protes oposisi-- terdengar di beberapa daerah.
 
Demonstran meniup peluit dan menabuh gendang, mereka bergerak menggelar protes, meminta pemimpin berusia 45 tahun yang berkuasa di Republik Demokratik Kongo sejak 2001 untuk meletakkan jabatan.
 
Masa jabatan kedua Kabila resmi berakhir pada Selasa
 
Televisi pemerintah semalam mengumumkan pembentukan pemerintahan baru menyusul kesepakatan antara pemerintah Kabila dan kelompok oposisi pinggiran.
 
Kabinet baru akan dipimpin oleh Sami Badibanga, seorang pembelot dari partai oposisi utama yang dipimpin Etienne Tshisekedi, 84 tahun.
 
Sebuah ledakan teredam juga terdengar di kawasan mewah di Gombe, di mana istana presiden berada. Penduduk setempat mengatakan gas air mata ditembakkan di daerah lain tapi tidak jelas siapa yang berada di balik penembakan.


Jalan menuju kediaman Etienne Tshisekedi diblokir (Foto: AFP).

 
Pembicaraan tentang transisi damai berada dalam ketidakpastian, memicu kekhawatiran kekerasan baru di negeri kaya mineral yang tidak stabil.
 
Kinshasa dicekam kesunyian, Senin 19 Desember, hampir tidak ada lalu lintas di jalan-jalan utama, sedikit angkutan umum melintas, tentara dan polisi kalah banyak jumlahnya dari para pejalan kaki yang lewat.
 
Toko-toko tutup di alun-alun dan muncul kejadian menegangkan di Kinshasa University, puluhan polisi dan tentara menahan ratusan mahasiswa yang marah.
 
Kantor Perwakilan HAM PBB di Kongo mengatakan, 28 orang ditangkap di Kinshasa, Senin, dan 46 lainnya di kota-kota sebelah timur Goma dan Bukavu.
 
Pembunuhan di kawasan timur
 
Di kawasan timur yang bergolak, sembilan pemberontak dan masing-masing seorang penjaga perdamaian Afrika Selatan, tentara Kongo, polisi, dan warga sipil tewas ketika para pejuang milisi menyerang beberapa bangunan di Butembo, termasuk penjara.
 
Penyalur barang kebutuhan sehari-hari mulai dari ponsel pintar hingga bola lampu dan perdagangan mineral --tantalum, tungsten, timah dan coltan-- di timur negara itu telah lama dikaitkan dengan kelompok-kelompok bersenjata yang menebar konflik.
 
Kabila, telah berkuasa selama 15 tahun, secara konstitusional dilarang menduduki masa jabatan ketiga. Tetapi di bawah perintah pengadilan konstitusional terakhir, dirinya mungkin tetap di tempatnya sampai penggantinya terpilih.
 
Partai yang berkuasa dan beberapa pemimpin oposisi telah sepakat menjadwalkan pemilu di awal April 2018, membiarkan Kabila dalam posisinya sampai pemungutan suara. Tapi blok oposisi utama menolak rencana ini.
 
Di Kinshasa, pasukan keamanan mengepung universitas tetapi mahasiswa melalui telepon mengatakan mereka telah mengatur rencana "berbaris dengan damai" menuju parlemen untuk menuntut Kabila mundur.
 
Wartawan video AFP dan seorang perantaranya --keduanya warga Kongo-- ditangkap di universitas dan ditahan selama 10 jam sebelum dibebaskan pada Senin malam.
 
Franck Diongo, pemimpin partai oposisi kecil, ditangkap dan dituduh menahan tiga Pengawal Republik, menurut keterangan penasihat diplomatik Kabila, Barnabe Kikaya Bin Karubi.
 
Keamanan juga diperketat di kota kedua, Lubumbashi, di tenggara, sebagian besar toko-toko ditutup dan senyap lalu lintas di jalanan.
 
Jejaring sosial telah dimatikan atau disaring sejak tengah malam Minggu 18 Desember atas perintah pemerintah dan polisi di akhir pekan melarang lebih dari 10 orang berkumpul.
 
Kabila tidak akan mundur
 
Dalam upaya terakhir mencapai pemindahan kekuasaan secara damai, partai yang berkuasa dan kelompok oposisi pinggiran mengadakan pembicaraan pekan lalu dengan pemimpin oposisi utama Tshisekedi.
 
Tapi setelah sepekan mediasi, pembahasan ditangguhkan dan dilanjutkan pada Rabu 21 Desember. Sebuah serah terima demokratis akan merintis jalan baru untuk 70 juta penduduk Kongo yang sejak kemerdekaan dari Belgia pada 1960 tidak pernah menyaksikan suksesi demokratis kekuasaan menyusul pemilu.
Presiden saat ini berkuasa setelah ayahnya Laurent Kabila dibunuh pada 2001. Ia terpilih pada 2006, dan sekali lagi pada 2011, dalam pemilu yang dikecam oposisi sebagai dicurangi. Kelompok oposisi Tshisekedi telah mengancam akan menurunkan massa ke jalanan sejak Senin bila pembicaraan gagal.
 
"Saya tidak melihat (Kabila) mengalah terhadap tekanan," kata penasihat diplomatik Bin Karubi, seperti dilansir Daily Mail dari laporan AFP, Selasa (20/12/2016).
 
Selama dua dekade lalu, Kongo tenggelam dalam konflik mematikan sepanjang sejarah Afrika modern, dua perang di akhir 1990-an dan awal 2000-an menyeret setidaknya angkatan bersenjata enam negara Afrika dan meninggalkan lebih dari tiga juta orang terbunuh.



(FJR)