37 Orang Tewas dalam Bentrokan Warga Palestina dan Prajurit Israel

Fajar Nugraha    •    Senin, 14 May 2018 19:55 WIB
palestina israel
37 Orang Tewas dalam Bentrokan Warga Palestina dan Prajurit Israel
Warga Palestina memprotes rencana pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem (Foto: AFP).

Gaza: Korban bentrokan warga Palestina dengan prajurit Israel di Gaza terus bertambah. 37 warga Palestina dilaporkan tewas dalam bentrokan Senin 14 Mei 2018 ini.
 
(Baca: 18 Warga Palestina Tewas Ditembak Jelang Peresmian Kedubes AS).
 
Bentrokan terjadi di saat warga Palestina melakukan protes rencana peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yerusalem. Sebelumnya, gedung kedubes itu berada di Tel Aviv.
 
"Korban tewas meningkat menjadi 37 dan 1.700 lainnya terluka oleh pasukan Israel," ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf al-Qidra, dalam pernyataannya, seperti dikutip Anadolu, Senin 14 Mei 2018.
 
Al-Qidra menambahkan seorang anak di bawah umur termasuk di antara mereka yang tewas selama protes. Menurutnya 39 warga Palestina terluka parah selama insiden ini terjadi.
 
Lebih lanjut Al-Qidra mengatakan sembilan wartawan dan seorang petugas medis cedera selama demonstrasi.
 
Sementara itu, pesawat tak berawak milik Israel menjatuhkan bom air mata ke demonstran Palestina, di sekitar perbatasan Gaza-Israel.
 
Sejak pagi ribuan warga Palestina berkumpul di perbatasan timur Jalur Gaza sejak pagi waktu setempat. Mereka mengambil bagian dalam protes yang ditujukan untuk memperingati ulang tahun Nakba dan memprotes merelokasi Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
 
Diperkirakan, unjuk rasa akan mencapai puncaknya pada Selasa, 15 Mei atau tepat pada peringatan 70 tahun pendirian Israel. Peringatan ini disebut oleh warga Palestina sebagai Peringatan Nakba.
 
(Baca: Pindahkan Kedubes, AS Optimistis untuk Perdamaian Israel-Palestina).
 
Sejak demonstrasi dimulai pada 30 Maret, setidaknya 49 demonstran Palestina telah tewas dan ratusan lainnya terluka, menurut angka Kementerian Kesehatan.
 
Pekan lalu, Pemerintah Israel mengatakan bahwa aksi unjuk rasa merupakan bagian dari hukum perang dan hak asasi manusia tidak berlaku dalam kasus tersebut.


(FJR)