Irak Gelar Pemilu Perdana usai Kekalahan ISIS

Willy Haryono    •    Sabtu, 12 May 2018 16:04 WIB
isis
Irak Gelar Pemilu Perdana usai Kekalahan ISIS
PM Irak Haider al-Abadi tiba di salah satu TPS di Baghdad, Sabtu 12 Mei 2018. (Foto: AFP/STR)

Baghdad: Iran menggelar pemilihan umum parlemen perdana, Sabtu 12 Mei 2018, usai mendeklarasikan kemenangan atas kelompok militan Islamic State (ISIS). Pemilu diharapkan dapat memperkuat Irak dalam upaya membangun kembali negara. 

Pemilih dari seantero Irak menggunakan hak pilih mereka di tengah pengawasan ketat aparat keamanan. Ini dikarenakan ekstremis masih menjadi ancaman keamanan terbesar meski intensitas kekerasan di Irak menurun cukup signifikan usai ISIS dinyatakan kalah. 

Sekitar 24,5 juta pemilih terdaftar di Irak menghadapi konstelasi politik yang terpecah usai ISIS dikalahkan lima bulan lalu. Kubu politik dominan Syiah terpecah, Kurdi relatif berantakan dan Sunni terpingirkan. 

Di sebuah tempat pemungutan suara di distrik Karrada di Baghdad, seorang warga bernama Sami Wadi berharap ada perubahan untuk "menyelamatkan negara."

"Saya menyerukan kepada semua warga Irak untuk berpartisipasi dalam pemilu demi mencegah mereka yang telah berkuasa sejak 2003 agar tidak kembali memimpin," ujar pensiunan itu kepada AFP. 

Sementara itu di bekas markas ISIS di Mosul, warga berharap pemilu kali ini dapat memperbaiki kehidupan mereka yang hancur berantakan akibat ketidakstabilan politik serta keamanan. 

"Saya memilih agar keamanan dan politik dapat kembali stabil, dan untuk masa depan yang lebih baik," ujar seorang pekerja bernama Ali Fahmi, 26. 

Perdana Menteri Haider al-Abadi -- yang berkuasa di Irak saat ISIS berbuat kekacauan di seantero negeri pada 2014 -- berusaha memperpanjang kepemimpinannya. Ia mengklaim sebagai orang di balik kalahnya ISIS di Irak. 

Namun kompetisi dalam komunitas Syiah, mayoritas dalam dunia perpolitikan Irak, akan membuat suara terhadap PM Abadi terpecah. 

Siapapun nanti yang menjadi PM, akan menghadapi tugas super berat dalam membangun kembali Irak yang hancur lebur oleh ISIS. 


(WIL)