Usai ISIS, Pemerintah Suriah Hadapi Ancaman Kurdi

Arpan Rahman    •    Jumat, 10 Nov 2017 19:09 WIB
krisis suriahisis
Usai ISIS, Pemerintah Suriah Hadapi Ancaman Kurdi
Suriah dihadapkan pada ancaman dari kelompok Kurdi (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Damaskus: Jatuhnya benteng penting terakhir Islamic State (ISIS) di Suriah, pasukan Suriah yang didukung Iran dan Rusia sekarang berbalik berhadapan dengan seteru utama mereka, pasukan yang didukung Amerika Serikat (AS) yang menguasai ladang minyak besar dan wilayah strategis di utara dan timur negeri.

Peta yang rumit menempatkan pasukan AS dan Iran di posisi berdekatan, berhadapan tepat di seberang Sungai Efrat satu sama lain. Di tengahnya banyak titik api yang bisa berubah menjadi kekerasan, terutama karena tidak adanya kebijakan Amerika yang jelas.

Tanda-tandanya sudah kelihatan. Iran mengancam, pekan lalu, bahwa pasukan Suriah akan maju ke arah Raqqa, bekas ibukota ISIS, yang jatuh ke Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS, pada Oktober. Meningkat pula potensi terjadinya bentrokan di sana. 

SDF yang dipimpin Kurdi juga mengendalikan beberapa ladang minyak terbesar di Suriah, di provinsi Deir el-Zour timur yang kaya minyak. Sedangkan sebuah sumber penting pemerintah Suriah mengatakan akan mengambilnya kembali.

SDF pun menghadapi keresahan di sebuah kota berpenduduk mayoritas Arab yang dibebaskan tahun lalu. Kemungkinan sejumlah hal akan terjadi di daerah lain, yang didominasi pasukan Kurdi di wilayah kekuasaan mereka di Suriah utara, berkisar 25 persen dari negara tersebut.

Pertanyaannya sekarang: apakah AS bersedia menghadapi pasukan Presiden Suriah Bashar Assad dan milisi yang didukung Iran. Suku Kurdi menghendaki komitmen Amerika yang jelas demi membantu mereka mempertahankan kemenangan. Pejabat Amerika berkata sekilas tentang rencana dan sasaran mereka di Suriah di luar pernyataan umum, yakni terus mengusir ISIS dari suaka perlindungan yang nyaman, dan melanjutkan latihan serta mempersenjatai sekutu-sekutunya.

Dalam sebuah pertemuan pekan ini dengan Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Assad menuturkan bahwa perangnya melawan terorisme dan rencana membubarkan Suriah. Menyiratkan sebuah referensi langsung bagi aspirasi Kurdi untuk mendirikan zona otonomi yang diakui di utara. Dia mengulangi bahwa pemerintahnya berencana kembali menguasai seluruh wilayah Suriah.

"Kemenangan pemerintah telah menggagalkan semua sekat rencana dan tujuan terorisme serta negara-negara yang mensponsorinya," kata Assad, seperti disitat AFP, Jumat 10 November 2017.

Dengan kejatuhannya di Boukamal, pada Kamis, kelompok ISIS tidak memiliki wilayah utama di Suriah atau Irak. Militannya diyakini sudah mundur ke padang pasir, timur dan barat Sungai Efrat. Masih segelintir militan di dekat ibu kota, Damaskus.

Sungai Efrat sekarang berada sebagai garis pemisah antara pasukan pemerintah Suriah dan SDF di sebagian besar provinsi Deir el-Zour.

Pasukan pemerintah dan sekutu mereka, termasuk tentara Iran dan pejuang dari kelompok garis keras Lebanon, Hizbullah, mengendalikan kawasan barat. Mereka menguasai ibu kota provinsi dan beberapa ladang minyak kecil.

Pasukan yang dipimpin suku Kurdi, bersama tentara Amerika yang jadi penasihat mereka, berada di sisi timur. Mereka menduduki dua ladang minyak terbesar di Suriah, hampir selusin yang lebih kecil, salah satu ladang gas terbesar dan sebagian besar perbatasan dengan Irak. Mereka bertekad agar kubu pemerintah tidak menyeberangi sungai.

Velayati dari Iran mengatakan, kehadiran AS bertujuan memecah-belah Suriah. "Mereka belum dan tidak akan berhasil di Irak, mereka juga tidak akan berhasil di Suriah," katanya saat berkunjung ke Lebanon, akhir pekan lalu. 

"Kita akan segera melihat pemerintah Suriah dan pasukan populer di Suriah di sebelah timur sungai Efrat dan mereka akan membebaskan kota Raqqa," cetusnya.

Koalisi AS menolak berkomentar atas ucapan Velayati, mengatakan bahwa "tidak tepat jika mengomentari spekulasi atau rumor oleh pihak ketiga."

Washington telah mewaspadai pengaruh Iran yang semakin meningkat di wilayah tersebut dan upayanya membangun koridor darat dari Iran melintasi Irak dan Suriah ke Lebanon. Selama berminggu-minggu, koalisi mengatakan bahwa SDF bermaksud menyerang Boukamal. Sekarang tidak jelas apa yang akan dilakukan AS.

Demi menghindari gesekan di medan perang yang ramai, koalisi pimpinan AS menyebut bahwa pihaknya menjaga kontak dengan sekutu Assad, Rusia.

Menteri Pertahanan Jim Mattis mengakui, pekan ini, bahwa negara-negara sekutu mendesak kebijakan AS yang lebih jelas di Suriah. Prioritasnya adalah perundingan perdamaian yang disponsori PBB kembali ke jalur semula, katanya, menawarkan beberapa rincian.

Pembicaraan tersebut, dijadwalkan pada 28 November, telah ditentang oleh Rusia, yang menghendaki peran lebih besar. Moskow menyerukan agar perundingan intra-Suriah buat memetakan proses politik dan mengundang partai Kurdi yang dominan, merupakan tulang punggung SDF, sebagai undangan internasional pertama. Tanggal kapan untuk pembicaraan Rusia belum ditetapkan.

Lebih dari setengah kekayaan minyak Suriah berbasis di Deir el-Zour. Suriah sudah membuktikan cadangan minyak sebesar 2,5 miliar barel, dan industri ini menjadi pilar ekonomi Suriah sebelum konflik di tahun 2011.

Sementara itu, SDF yang dipimpin Kurdi menghadapi komplikasi, mencoba buat mengelola daerah yang didominasi Arab. Didukung AS, pasukan tersebut berupaya menghilangkan ketakutan warga Arab terhadap dominasi Kurdi dengan membentuk dewan lokal bersama serta memilih pejabat Arab dan Kurdi.

Tapi pekan ini, kota Manbij yang dikelola SDF dicekam demonstrasi oleh warga Arab melawan wajib militer yang diberlakukan SDF. Ratusan orang ditahan sebentar, menurut Mohammed Khaled, dengan 24 aktivis Aleppo terjaring operasi. 

Ilham Ahmed, politisi senior di sayap politik SDF, menggambarkan demonstrasi tersebut "buatan" pemerintah dan Turki, yang melihat aspirasi Kurdi sebagai ancaman.



(FJR)