Hizbullah jadi Negara di Dalam Negara

Sonya Michaella    •    Selasa, 21 Nov 2017 16:36 WIB
konflik lebanon
Hizbullah jadi Negara di Dalam Negara
Peneliti senior kawasan Timur Tengah UIN, Ali Muhanif (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Liga Arab menyebut bahwa Hizbullah adalah organisasi teroris. Penyebutan ini dirumuskan saat menteri luar negeri negara anggota Liga Arab berkumpul di markas besar Liga Arab di Mesir melakukan pertemuan darurat atas inisasi Arab Saudi.

Selama ini, Hizbullah dinilai memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan di Lebanon. Bahkan keberadaan Hizbullah itu disebut-sebut yang memicu keluarnya Perdana Menteri Saad Hariri dari negaranya dan mengumumkan mundur ketika berada di Arab Saudi.

"Hizbullah sekarang, jadi negara di dalam negara. Mereka juga condong ke Iran," kata peneliti senior kawasan Timur Tengah UIN, Ali Muhanif, ketika ditemui di Kantor CDCC, Jakarta, Selasa 21 November 2017.

Ali menilai, pertemuan Liga Arab yang dipelopori oleh Arab Saudi ini bisa menilai Iran untuk keluar di 'arena petarungan'.

"Pertemuan dan pernyataan Liga Arab tersebut bisa memancing Iran keluar. Keadaan sekarang juga cukup rawan seperti Houthi di Yaman dan Qatar yang berpihak ke Iran," lanjut dia.

"Jika Iran terpancing keluar, maka perang Timur Tengah akan terjadi," tukas Ali.

Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid bin Ahmed Al-Khalifa yang hadir pada pertemuan darurat Liga Arab tersebut menyebutkan bahwa pertanggungjawaban harus ada dari setiap sekutu Hizbullah.

"Kami ingin menahan negara-negara koalisi Hizbullah, khususnya Lebanon. Lebanon sangat tunduk dalam kontrol penuh kelompok teroris ini," ucapnya, dikutip dari CNN.

Setelah pernyataan dari Liga Arab ini keluar, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif pun berkicau di Twitter dengan menyebut Arab Saudi adalah biang keladi dari semua permasalahan dan krisis di Timur Tengah.

Ketegangan terbaru antara Arab Saudi dan Iran dipicu oleh insiden 4 November di mana pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman melepaskan sebuah rudal balistik ke arah Bandara Internasional Riyadh.

Arab Saudi kemudian menuduh Hizbullah dan Iran berada di balik serangan tersebut. Namun, keduanya membantah terlibat dalam insiden tersebut.


(FJR)