Hilang 13 Tahun, Pekerja Migran Indonesia Ditemukan di Yordania

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 19 Apr 2018 13:36 WIB
berita kemenaker
Hilang 13 Tahun, Pekerja Migran Indonesia Ditemukan di Yordania
Tim Satgas KBRI Amman berhasil menemukan Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Dastin binti Tasja (Foto:Dok.Kemenaker)

Jakarta: Tim Satgas KBRI Amman berhasil menemukan Pekerja Migran Indonesia (PMI)  bernama Dastin binti Tasja (30), warga Desa Juntikedokan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ia hilang kontak dengan keluarganya selama 13 tahun di Amman, Yordania.

Saat ini, Dastin berada di Shelter Griya Singgah KBRI Amman dalam kondisi fisik yang sehat. Namun Dastin hanya bisa berbahasa Arab. Tak mampu berbahasa Indonesia.

“Kami bersama anggota tim langsung bergerak cepat melakukan berbagai upaya untuk mencari Dastin, di antaranya melakukan koordinasi dengan Unit Cegah Tangkal Tindak Perdagangan Manusia (Counter Trafficking Unit) Yordania,” kata  Atase Tenaga Kerja KBRI Yordania, Suseno Hadi, melalui keterangan pers yang dirilis Biro Humas Kemnaker, Kamis, 19 April 2018.

Suseno menjelaskan saat melakukan upaya pencarian, tim satgas KBRI Yordania telah berupaya keras mencari data dan informasi yang didapatkan dari beberapa sumber tentang keberadaan Dastin. Namun sempat terkendala karena tidak dapat dihubungi.

Menurut catatan, Dastin datang ke Yordania pada 2005, dengan menggunakan visa turis dan dipekerjakan secara tidak jelas (berpindah-pindah) oleh agen yang menanganinya di Yordania. Saat ini agen tersebut telah tutup.

“Alhamdulilah akhirnya kita bisa mendapatkan informasi mengenai majikan Dastin dan menemukan Dastin di sana. Majikannya cukup kooperatif dan kita juga berhasil mendatangkan majikannya ke KBRI,” kata Suseno menjelaskan.

Melalui bantuan petugas dari CTU, lanjut Suseno, majikan Dastin bersedia membayar denda perijinan, sisa gaji, dan menyelesaikan hak-haknya selama bekerja dengan dia.


Dastin binti Tasja (Foto:Dok.Kemenaker)

“Kita sudah pegang pernyataannya untuk menyelesaikan semua permasalahan terkait dengan Dastin, termasuk denda dan sisa gaji yang belum dibayarkan. Bila majikannya lari, bisa kita ajukan tuntutan hukum ke pengadilan dan di-blacklist,” kata Suseno.

Sementara itu, saat ditemui  di Shelter Griya Singgah KBRI Amman, Dastin menyampaikan terima kasih kepada tim satgas KBRI yang telah menemukannya. Di sana Dastin  melakukan penyesuaian dan kembali belajar bahasa Indonesia.

“Dia gembira sekali dan memang sudah lama hilang kontak dan tidak berkomunikasi dengan keluarganya. Dia mengatakan ingin segera pulang dan bertemu dengan kedua orang tuanya di kampung halamannya” kata Suseno.

“Saat ini kita terus berupaya berkoordinasi dengan pihak keluarganya di tanah air. Kita terus proses untuk kepulangannya  ke tanah air. Namun masih menunggu penyelesaian kasusnya sampai tuntas, termasuk sisa pembayaran denda izin dan sisa gaji dari majikannya,” ujar Suseno menambahkan.

Dastin merupakan satu dari sekian banyak kasus yang masih tersisa di Yordania. Menurut catatan Kementerian Perburuhan Yordania, pada 2017 terdapat 2.805 PMI yang bekerja di Yordania. Dari jumlah tersebut, hanya 505 PMI yang memiliki izin. Sisanya, 2.300 orang masuk dalam kategori ilegal.

Sejak diberlakukannya Kepmenaker Nomor 260 Tahun 2015 Tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan TKI Pada Pengguna Perseorangan di Negara-Negara Kawasan Timur Tengah, pengiriman TKI sudah tidak dilakukan lagi, namun masalah-masalah yang tersisa masih dihadapi.

Masalah utama yang dihadapi oleh para PMI di Yordania pada umumnya terkait dengan gaji yang belum dibayar dan denda izin tinggal yang tidak diurus oleh majikan.

“Diharapkan jumlah PMI ilegal di Yordania akan menurun sejalan dengan berbagai upaya diplomasi KBRI dengan pemerintah setempat untuk penyelesaian masalah. Sebagai bentuk upaya pemerintah hadir dalam perlindungan WNI/PMI, KBRI Amman akan terus memperjuangkan hak-hak dan melindungi WNI/PMI yang masih ada di Yordania," ucapnya.


(ROS)