Batik dan Makanan Indonesia Primadona di Afsel

Marcheilla Ariesta    •    Minggu, 09 Dec 2018 08:00 WIB
indonesia-afrika selatan
Batik dan Makanan Indonesia Primadona di Afsel
Stand Indonesia dipenuhi pengunjung Diplomatic Fun Fair Afrika Selatan. (Foto: Dok. KBRI Pretoria)

Johannesburg: Batik dan makanan Indonesia menjadi primadona di Afrika Selatan. Para warga Afrika Selatan menyukai kedua hal tersebut yang dijual dalam Diplomatik Fun Fair 2018.

Pameran dilakukan pada 8 Desember kemarin di Ditsong Pioneer Museum, Pretoria. Lebih dari 200 pengunjung menyerbu stan Indonesia.

Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi mengatakan di stan Indonesia, para pengunjung juga dapat merasakan cita rasa kopi asli yang disajikan Kantor ITPC Johannesburg.

"Bagi masyarakat Afrika Selatan, batik memiliki kesan dan makna historis yang sangat mendalam. Batik dikenal dengan sebutan Madiba Shirt yang merupakan panggilan tokoh pejuang Apartheid, Nelson Mandela," kata Dubes Salman, dikutip dari keterangan KBRI Pretoria, Minggu 9 Desember 2018.

Nelson Mandela kerap menggunakan batik di berbagai kegiatan di negaranya. Ini membuat batik kian mendunia, khususnya di Afrika Selatan.


Stand Indonesia dipenuhi pengunjung Diplomatic Fun Fair Afrika Selatan. (Foto: Dok. KBRI Pretoria).

Para pengunjung stan juga mencicipi berbagai makanan khas Indonesia, seperti sate ayam, mi goreng dan nasi goreng. Mereka juga diperkenalkan dengan kue-kue tradisional, seperti klepon dan onde-onde.

Diplomatic Fun Fair merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Luar Afrika Selatan. Kegiatan ini menjadi ajang memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai dunia diplomasi.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk seluruh perwakilan negara sahabat Afsel memperkenalkan budaya dan kulinernya. Stan Indonesia berhasil mendapat penghargaan sebagai 'the most entertaining stall' karena dianggap paling menghibur.

Tahun ini, acara tersebut mengambil tema 'Honouring Madiba- A Global Champion of Human Rights, Peace and Reconciliation'. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati 100 tahun Nelson Mandela.


(JMS)