Republik Afrika Tengah Berdamai dengan Pemberontak

Willy Haryono    •    Minggu, 03 Feb 2019 10:54 WIB
konflik republik afrika tengah
Republik Afrika Tengah Berdamai dengan Pemberontak
Komisioner AU Smail Chergui (tengah) membantu memfasilitasi perjanjian damai di Khartoum, Sudan, Sabtu 2 Februari 2019. (Foto: AFP)

Khartoum: Sebuah perjanjian damai antara pemerintah Republik Afrika Tengah (CAR) dengan 14 grup pemberontak akhirnya disepakati, Sabtu 2 Februari 2019, usai berlangsungnya serangkaian dialog di Sudan.

Perjanjian diumumkan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di CAR, atau dikenal juga dengan Minusca, dan Uni Afrika (AU). Kedua entitas tersebut mensponsori berlangsungnya dialog damai di Khartoum.

"Ini adalah hari yang luar biasa bagi Republik Afrika Tengah dan seluruh warganya," ujar komisioner AU Smail Chergui, seperti dikutip dari laman BBC. Pemerintah CAR menyebut perjanjian damai akan segera ditandatangani di Bangui.

Detail perjanjian belum diumumkan ke publik. Sejumlah analis mengingatkan semua pihak untuk waspada karena beberapa perjanjian damai sebelumnya telah berakhir gagal.

CAR, negara yang tidak stabil sejak merdeka dari Prancis pada 1960, jatuh ke jurang krisis keamanan pada 2013. Di tahun itu, sejumlah pemberontak dari grup Seleka merebut kekuasaan di CAR, negara mayoritas pemeluk agama Kristen.

Sebuah grup yang didominasi milisi Kristen bernama anti-Balaka bangkit dan mencoba melawan Seleka.

Ribuan orang tewas dalam pertempuran kedua kubu, dan lebih dari satu juta lainnya menjadi telantar. Diestimasi ada 570 ribu warga CAR telah melarikan diri ke luar negeri akibat gelombang kekerasan.

"Kami telah menyelesaikan sebuah perjanjian damai di Khartoum. Warga CAR kini dapat bergerak menuju rekonsiliasi dan pembangunan," tulis Chergui di Twitter.

Pemerintahan CAR di bawah Presiden Faustin-Archange Touadera juga mengonfirmasi adanya perjanjian via Twitter. "Perjanjian ini harus diterapkan besok (Minggu 3 Februari) dan ditandatangani di Bangui dalam beberapa hari ke depan," tulisnya.

Juru bicara faksi bersenjata FPRC menyebut konsensus telah tercapai dengan CAR, termasuk soal amnesti untuk milisi dan pemerintahan inklusif.

"Kami berhasil menyepakati hal esensial bagi Republik Afrika Tengah, yakni perdamaian. Kami berharap perjanjian ini akan mengembalikan kohesi sosial ke CAR," sebut Abakar Sabom.



(WIL)