Kerja Sama Demokrasi Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia - Tunisia

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 03 Oct 2017 18:12 WIB
Kerja Sama Demokrasi Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia - Tunisia
Menlu Retno Marsudi (kiri) bersama Menlu Tunisia Khemaies Jhinaoui dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-10 Indonesia-Tunisia, Senin 2 Oktober 2017. (Foto: Kemenlu RI)

Metrotvnews.com, Tunis: Demokrasi adalah salah satu cara terbaik melayani rakyat. demikian disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kepada Menlu Tunisia Khemaies Jhinaoui dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-10 Indonesia-Tunisia, Senin 2 Oktober 2017.

Pertemuan SKB Indonesia-Tunisia dilaksanakan back-to-back dengan pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) pertama di luar Bali, yaitu BDF-Chapter Tunis. 

Dipilihnya Tunisia sebagai mitra Indonesia karena merupakan satu-satunya negara Arab Spring yang berhasil melakukan transformasi penuh kepada demokrasi. Transisi itu terlihat dari dilakukannya pemilu secara damai, bebas dan terbuka pada 2014. 

Kedua Menlu berharap, BDF-Chapter Tunis dapat memberikan forum untuk melakukan tukar pikiran dan pengalaman mengenai demokrasi, khususnya homegrown democracy.

Dalam pertemuan Sidang Komisi Bersama, Menlu RI menyampaikan apresiasi kepada Tunisia yang telah menjadi tuan rumah pelaksanaan BDF-Chapter Tunisia. Menlu RI menyampaikan bahwa Tunisia menjadi mitra penting dalam mempromosikan dan membangun demokrasi di kawasan. 

"Saya percaya bahwa Tunisia akan terus memainkan peran penting dalam mempromosi demokrasi dan stabilitas di Timur Tengah," tutur Menlu Retno, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com.

Selain kerja sama demokrasi, upaya peningkatan kerja sama ekonomi menjadi perhatian dalam SKB. Nilai perdagangan kedua negara yang mencapai sekitar USD63 juta pada semester pertama 2017, dipandang kedua Menlu belum merefleksikan potensi Indonesia dan Tunisia. Dalam kaitan ini, kedua Menlu sepakat mengambil langkah guna mengurangi berbagai hambatan perdagangan.


Nilai perdagangan RI dan Tunis capai USD63 juta di semester awal 2017. (Foto: Kemenlu RI)

Beberapa langkah yang disepakati termasuk mempercepat proses dimulainya perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) dan memperkuat interaksi antara pengusaha, termasuk interaksi antara kamar dagang kedua negara. Dalam kaitan ini, Menlu RI mengundang pengusaha Tunisia untuk hadir dalam Trade Expo Indonesia in Jakarta on 11-15 Oktober 2017.

Di bidang investasi, Menlu RI menyampaikan bahwa saat ini investasi perusahaan Indonesia di Tunisia mencapai lebih dari US$100 juta di bidang migas. Menlu RI meminta perhatian Pemerintah Tunisia untuk memberikan dukungan dan menciptakan kondisi kondusif bagi perusahaan Indonesia yang melakukan investasi di Tunisia.  Menlu RI menyampaikan adanya ketertarikan dari perusahaan Indonesia lainnya untuk melakukan kerja sama di industri pupuk. 

"Hubungan sejarah dan politik yang kuat Indonesia dengan Tunisia menjadi fondasi kokoh untuk mengembangkan potensi dan kerja sama ekonomi," tegas Menlu Retno.

Lebih lanjut, Kedua Menlu sepakat meningkatkan kerja sama di bidang penanggulangan terorisme, termasuk di dalam konteks kerja sama inteligen, pencegahan pendanaan bagi terorisme, penanganan foreign terrorist figthers (FTF), serta program diradikalisasi dan dialog interfaith. Dalam kaitan ini, kedua Menlu sepakat mendorong agar segera diselesaikannya MoU mengenai kerja sama penanggulangan terorisme.

Menutup SKB, kedua Menlu sepakat meningkatkan kerja sama teknis dan pengembangan kapasitas kedua negara. Dalam kaitan ini, Menlu RI menyampaikan bahwa Indonesia telah melakukan 11 program kerja sama teknis yang diikuti 34 peserta dari Tunisia di berbagai bidang seperti, water management, micro-financing, demokrasi, manajemen pemilu, anti-corruption dan good governance

Lebih lanjut Menlu RI mengundang peserta dari Tunisia untuk ikut dalam program kerja sama Teknis Indonesia untuk tahun 2018, termasuk di bidang pertanian, SMEs, maritim dan perikanan, keluarga berencana, dan demokrasi. Menlu RI juga mendorong kerja sama teknis di bidang pendidikan diplomat, termasuk pendidikan bahasa Arab dan Prancis bagi diplomat Indonesia di Tunis. 

Dalam kunjungannya ke Tunisia, Menlu Retno juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed. Dalam pertemuan tersebut, kerja sama ekonomi menjadi fokus pembahasan. Menlu RI menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan Indonesia yang melakukan investasi di Tunisia.


Menlu Retno berbincang-bincang dengan PM Tunisia. (Foto: Kemenlu RI)

Selain PM Tunisia, Menlu RI juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Republik Tunisia, Beji Caid Essebsi. Dengan Presiden Tunisia, Menlu RI membahas kerja sama memajukan Demokrasi, moderasi dan pemberdayaan perempuan, termasuk dalam kerangka Bali Democracy Forum (BDF). 

Selain itu, juga dibahas peningkatan kerja sama Indonesia dan Tunisia bersama negara-negara Islam termasuk dalam kerangka OKI, yang bertujuan untuk meningkatkan umat Islam. 

Di akhir pertemuan, Menlu RI menyampaikan pentingnya meningkatkan kerja sama ekonomi dan mengharapkan Pemerintah Tunisia dapat terus menciptakan kondisi kondusif bagi perusahaan Indonesia yang melakukan investasi di Tunisia.

Hubungan bilateral Indonesia dan Tunisia terjalin baik sejak sebelum kemerdekaan Tunisia. Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Tunisia hadir dalam Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955, dan Presiden Soekarno mengizinkan dibukanya kantor perjuangan kemerdekaan Tunisia di Jakarta.

Indonesia membuka Kedutaan Besar di Tunis pada tahun 1960, yang sekaligus menandai pembukaan hubungan diplomatik antara kedua negara. Kedutaan Besar Tunisia di Jakarta dibuka pada tanggal 14 Oktober 1987. Nilai perdagangan kedua negara pada 2016 mencapai USD 60.7 juta dan USD 77.1 juta di tahun 2015. 

Jumlah WNI di Tunisia sebanyak 138 orang, sebagian besar adalah pelajar/mahasiswa di angka 73.

(WIL)