7 Juta Jiwa di Yaman Terancam Kelaparan

Arpan Rahman    •    Kamis, 09 Nov 2017 13:24 WIB
konflik yaman
7 Juta Jiwa di Yaman Terancam Kelaparan
Seorang bocah di Yaman yang menderita sakit kolera dan kelaparan pun mengancam (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Sanaa: Yaman berada di ambang kelaparan terbesar di dunia dengan tujuh juta orang berisiko tidak memiliki akses terhadap makanan. 
 
Kepala bantuan PBB Mark Lowcock memperingatkan bahwa koalisi militer dipimpin Arab Saudi tidak mengizinkan akses bantuan kemanusiaan ke Yaman akan menyebabkan "kelaparan terbesar yang dialami dunia selama beberapa dekade terakhir dengan jutaan korban."
 
Koalisi militer pimpinan Saudi memerangi pemberontakan Houthi di negara tetangga Yaman. Pada Senin, semua pelabuhan udara, darat, dan laut ke negara Semenanjung Arab ditutup guna membendung aliran senjata ke Houthi dari Iran.
 
Langkah tersebut menyusul pencegatan rudal yang ditembakkan ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu, kemungkinan akan memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Menurut PBB, krisis sudah mendorong sekitar tujuh juta orang di ambang kelaparan dan menyebabkan hampir 900.000 orang terinfeksi kolera.
 
Lowcock, mengunjungi Yaman akhir bulan lalu, memberi tahu Dewan Keamanan PBB menolak permintaan Swedia. "Saya mengatakan kepada dewan bahwa kecuali jika tindakan tersebut dicabut akan ada kelaparan di Yaman," katanya kepada wartawan.
 
"Ini akan menjadi bencana kelaparan terbesar yang telah dialami dunia selama beberapa dekade dengan jutaan korban," cetusnya, seperti dilansir Mirror, Kamis 9 November 2017.
 
Dia katakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara dengan Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir, pada Rabu 8 November, dan meminta dibukanya kembali akses kemanusiaan.
 
Lowcock mengatakan Program Pangan Dunia PBB (WFP) sedang memberi makan tujuh juta orang dalam sebulan di Yaman.
 
"Yang kita butuhkan adalah membuka blokade, sehingga kita bisa menyelamatkan nyawa orang-orang itu," katanya.
 
Dewan Keamanan PBB menyatakan keprihatinannya tentang situasi kemanusiaan itu, kata perwakilan Italia di PBB, Sebastiano Cardi, yang menjabat presiden dewan untuk November, setelah pengarahan dari Lowcock.
 
"Anggota Dewan Keamanan menekankan pentingnya menjaga semua pelabuhan dan bandara di Yaman berfungsi, termasuk pelabuhan Hodeidah, sebagai jalur kritis bagi bantuan kemanusiaan dan pasokan penting lainnya," kata Cardi.
 
Organisasi bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan internasional telah lama mengkritik koalisi yang memblokir akses bantuan, terutama ke Yaman utara, yang dikuasai gerakan Houthi yang terkait dengan Iran.
 
"Akses kemanusiaan melalui pelabuhan tidak memadai, bahkan sebelum tindakan yang diumumkan pada 6 November," kata Lowcock, menambahkan bahwa juga tidak ada penerbangan PBB diperbolehkan ke Yaman sejak Senin.
 
Koalisi dipimpin Arab Saudi sudah menargetkan kaum Houthi sejak mereka merebut sebagian wilayah Yaman pada 2015, termasuk ibu kota Sanaa, memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk melarikan diri.
 
Lowcock meminta segera dimulainya kembali akses PBB dan penerbangan bantuan lainnya ke Sanaa dan Aden, jaminan dari koalisi bahwa tidak akan ada gangguan lebih lanjut terhadap penerbangan tersebut, dan membuka lagi pelabuhan demi kemanusiaan dan perdagangan.
 
Dia juga minta koalisi mengizinkan sebuah kapal WFP berpangkalan di pelabuhan Aden dan jaminan bahwa tidak akan ada gangguan lebih lanjut terhadap pelayarannya. Seraya menuntut agar semua kapal yang telah lolos inspeksi PBB diperbolehkan bongkar-muat.



(FJR)