Bentrokan Sengit Berlanjut di Ibu Kota Suriah

Arpan Rahman    •    Senin, 20 Mar 2017 22:14 WIB
krisis suriahsuriah membarakonflik suriah
Bentrokan Sengit Berlanjut di Ibu Kota Suriah
pemandangan umum area yang dikuasai oposisi di Damaskus, Suriah. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Damaskus: Bentrokan dahsyat mengguncang distrik timur ibu kota Suriah, pada Minggu 19 Maret. Para oposisi dan militan berusaha merangsek ke pusat kota lewat serangan dadakan atas pasukan pemerintah.

Serbuan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum putaran baru pembicaraan damai yang ditengahi PBB di Jenewa, yang bertujuan mengakhiri perang enam tahun Suriah.

Oposisi dan pasukan pemerintah setuju menghentikan pertempuran nasional, pada Desember. Tetapi kontak senjata terus terjadi di banyak wilayah, termasuk di ibu kota.

Tembakan meriam masih riuh dan desing peluru penembak gelap terdengar di Damaskus tatkala faksi oppsisi yang bersekutu dengan bekas afiliasi al-Qaeda, Front al-Sham Fateh, menyerang posisi pasukan rezim di timur kota.

Serangan dimulai "dengan dua bom mobil dan beberapa penyerang bunuh diri" di distrik Khobar, menurut Rami Abdel Rahman, kepala kelompok pemantauan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR).

Oposisi menyita sejumlah bangunan di Khobar dan maju ke daerah Alun-alun Abbasiyah, merebut sebagian stasiun bus sebelum dipukul mundur kembali, katanya.

"Setelah pejuang oposisi maju, pasukan rezim kaget lalu mulai menyerang balik," tuturnya, seperti disitir AFP, Senin 20 Maret 2017.

Televisi pemerintah, yang mengutip sebuah sumber militer, mengatakan, tentara "memperketat jerat di sekitar kelompok teroris yang mengepung zona industri di pinggiran utara Khobar".

Saat senja turun, pemberontak mengalihkan fokus mereka ke Qabun, distrik timur laut yang dibombardir beberapa pekan terakhir oleh pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad.

"Oposisi ingin menghubungkan wilayah mereka di Khobar dengan Qabun demi mematahkan kepungan pemerintah di sana," tambah Abdel Rahman.

Seorang koresponden AFP menyebut warga sipil di timur laut Damaskus yang dikuasai pemerintah tetap bersembunyi di dalam rumah, bahkan ketika intensitas bentrokan kemudian mereda dan medan pertempuran berpindah lebih jauh.


Pemandangan umum pusat kota Damaskus. (Foto: AFP)

Sekolah Tutup

Pesawat-pesawat tempur rezim menargetkan posisi gerilyawan lewat lebih dari 30 serangan udara, cetus Abdel Rahman.

Media pemerintah menguraikan, tentara berhasil "memblokir serangan teroris pada posisi militer dan bangunan tempat tinggal di Khobar", daerah di dekat pusat kota.

TV negara menayangkan rekaman dari Abbasiyah Square, yang khas dengan keriuhan aktivitas, tapi sekarang kosong lantaran tentara memerintahkan warga agar diam dalam rumah. 

Koresponden AFP menyebutkan, tentara menutup rute ke alun-alun tersebut. Beberapa tank terlihat memasuki Damaskus timur sebagai bala bantuan. Beberapa sekolah tetap ditutup pada Senin.

Kekuasaan di Khobar -- yang sudah jadi medan perang selama lebih dari dua tahun -- terbelah antara oposisi serta sekutu militan dengan pasukan pemerintah.

Kelompok pemberontak Faylaq al-Rahman dan Front Fateh al-Sham tampak berkeliaran di daerah itu, kata SOHR.

Serangan di hari Minggu menunjukkan "pemberontak bergerak dari posisi defensif menjadi ofensif di Khobar," kata Abel Rahman.

"Ini bukan bentrokan berselang -- melainkan upaya berkelanjutan untuk menyerbu," katanya.

Serbuan ke Abbasiyah Square, meskipun berlangsung singkat, menjadi pertama kalinya dalam kisaran dua tahun, yang digelar oposisi ke dekat jantung Damaskus.

Abdel Rahman berujar, serangan udara balasan dan tembakan meriam pemerintah ke benteng oposisi di Ghouta Timur, sebelah timur Damaskus, menewaskan 13 warga sipil.


Lokasi ledakan bom bunuh diri ganda di Damaskus. (Foto: AFP)

Israel Ancam Sistem Pertahanan

Beberapa bulan terakhir, rezim telah mencoba untuk mengamankan wilayah sekitar ibu kota melalui serangan terbaru atas kota-kota yang terkepung kekuasaan oposisi dibarengi tawaran "rekonsiliasi" secara lokal.

Berdasarkan perjanjian tersebut, pemerintah setuju mengakhiri pengeboman dan berhenti mengepung kota-kota itu diimbali penarikan mundur oposisi.

Pada Minggu, puluhan oposisi dan warga sipil mengungsi keluar dari kota Homs, distrik terakhir yang dikontrol oposisi, menuju provinsi Aleppo utara.

Seorang fotografer AFP melihat laki-laki, perempuan, dan balita mengintip dari balik tirai bus yang melaju ke Jarabulus, sebuah kota di perbatasan Suriah-Turki.

Lebih dari 320.000 orang tewas dan jutaan telah mengungsi sejak konflik Suriah meletus enam tahun lampau dipicu protes terhadap pemerintah Assad.

Setelah tindakan keras, pemberontakan meningkat jadi sebuah perang habis-habisan yang menarik sejumlah kekuatan dunia di hampir segala sisi.

Masih di hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengancam akan menghancurkan sistem pertahanan udara Suriah setelah senjata rudal anti-pesawat mereka menyasar pesawat tempur Israel.

Militer Suriah berkata telah menembak jatuh jet Israel, pada Jumat 17 Maret, dan memukul satu lainnya di kala mereka melakukan serangan fajar dekat kota gurun terkenal, Palmyra.

Israel membantah pesawatnya tertembak dan mengatakan telah memuntahkan senjata ke gerakan Hizbullah Lebanon, yang mendukung Assad di Suriah.

PBB sudah mensponsori pembicaraan damai buat mengakhiri konflik sejak 2012, tetapi tidak berhasil.

Perwakilan pemerintah dan tokoh-tokoh oposisi akan bertemu dalam babak keempat perundingan pada 23 Maret di Swiss.


(WIL)