Tidak Ada Lagi RS Beroperasi di Aleppo Timur

Arpan Rahman    •    Minggu, 20 Nov 2016 23:25 WIB
krisis suriah
Tidak Ada Lagi RS Beroperasi di Aleppo Timur
Pasukan rezim Suriah berkumpul dekat RS Kindi di Aleppo, 2 Oktober 2016. (Foto: AFP/GEORGE OURFALIAN)

Metrotvnews.com, Aleppo: Serangan udara tak kunjung henti melanda Aleppo timur, Suriah. Akibatnya, tidak ada lagi satu pun rumah sakit yang beroperasi penuh di daerah yang dikuasai pemberontak. Demikian disampaikan Lembaga Medis Suriah-Amerika (SAMS), Sabtu 19 November.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, layanan semua rumah sakit darurat di Aleppo timur terhenti. Sejumlah laporan lain menunjukkan beberapa fasilitas medis masih berfungsi, namun penduduk terlalu takut untuk memakainya.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Susan Rice mengatakan, Amerika Serikat (AS) mengutuk serangan udara "yang begitu kejam" dan menyerukan Rusia mengambil langkah-langkah untuk menghentikan kekerasan.

"AS kembali bergabung dengan mitra kami dalam menuntut penghentian pengeboman, dan menyerukan Rusia segera mengurangi kekerasan dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan akses bagi rakyat Suriah," tambahnya seperti disitir IB Times, Minggu (20/11/2016).

Menurut Pertahanan Sipil Suriah atau White Helmets, setidaknya 61 warga sipil tewas dalam puluhan serangan udara, bom barel, dan artileri, di Aleppo timur. Serangan itu dipimpin pemerintah Suriah sejak Selasa 15 November, setelah sempat ada jeda selama tiga pekan. Serangan darat diduga diluncurkan ke posisi militan pada Jumat 18 November.

"Ini penghancuran atas infrastruktur penting bagi mereka yang hidup dalam kepungan, orang-orang tak berdosa, termasuk anak-anak serta lanjut usia, tanpa fasilitas kesehatan yang menawarkan pengobatan untuk menyelamatkan jiwa, membiarkan mereka meninggal," kata pihak direktorat kesehatan Aleppo dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Reuters.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan sejumlah laporan serangan udara terhadap warga sipil dan rumah sakit itu "memuakkan" dan menyerukan semua pihak kembali ke meja diplomasi.

Menurut Reuters, pemerintah Rusia dan Suriah membantah menargetkan rumah sakit dan infrastruktur sipil. Rusia menyerukan gencatan senjata pada Oktober dan pada Sabtu lalu mengatakan, serangannya hanya akan ditujukan kepada kelompok yang tidak menghormati gencatan senjata.

Doctors Without Borders menyatakan, ada lebih dari 30 hantaman bom ke sejumlah rumah sakit di Aleppo timur sejak Juli.

"Dokter cuma sedikit dan perlengkapan medis habis, tanpa kemungkinan untuk mengirim pasokan lagi," katanya. Tim penyelamat yang sebelumnya mampu mengoperasikan kembali rumah sakit mendapati kurangnya persediaan obat-obatan sehingga mereka tidak dapat bekerja saat ini.

Menurut PBB, sedikitnya 700 warga sipil tewas di Aleppo timur dalam serangan udara. Sementara serangan roket di bagian barat Aleppo menewaskan puluhan orang pada akhir Oktober. Aleppo, bekas pusat perdagangan Suriah, telah terbelah dua, dikuasai pemberontak di timur dan rezim mengendalikan sebelah baratnya, sejak 2012.



(WIL)