Desak ISIS, Pasukan Irak Bergerak ke Masjid Agung Mosul

Willy Haryono    •    Rabu, 15 Mar 2017 17:20 WIB
konflik irakisis
Desak ISIS, Pasukan Irak Bergerak ke Masjid Agung Mosul
Tank Irak bertempur melawan ISIS di area Bab al-Tob di Mosul, 14 Maret 2017. (Foto: Reuters/Ari Jalal)

Metrotvnews.com, Baghdad: Pasukan Irak bergerak menuju Masjid Agung di Mosul dalam fase-fase akhir pertempuran mengusir kelompok militan Islamic State (ISIS) dari kota kedua terbesar tersebut, Rabu 15 Maret 2017. 

Jatuhnya Mosul akan menjadi pukulan telak bagi ISIS, yang menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota de facto mereka di ISIS. Pada 2014, pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan di Mosul. 

Selain Masjid Agung Mosul, pasukan Irak juga berkonsentrasi merebut Jembatan Besi yang menghubungkan bagian timur kota dengan wilayah barat. Di Mosul barat, ISIS mempersiapkan diri untuk bertahan habis-habisan. 

Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di sekitar Museum Mosul. Sebuah bom mobil ISIS dilaporkan meledak di dekat museum. 

Upaya merebut Mosul dari ISIS dimulai sejak 17 Oktober tahun lalu. "Pasukan kami bergerak ke target-target mereka. Tujuan utama saat ini adalah menguasai Jembatan Besi, dan setelah itu membersihkan area sekitarnya dari Daesh," ucap juru bicara Unit Respons Cepat dari Kementerian Dalam Negeri Irak, merujuk pada akronim lain dari ISIS. 

"Kami juga akan bergerak ke pasar tua di Bab al-Tob dan terus masuk hingga ke lokasi Masjid Agung Mosul," sambung dia, seperti dikutip AFP

Merebut Masjid Agung Mosul akan menjadi kemenangan simbolis, namun pasukan Irak mengatakan hal tersebut memerlukan cukup banyak waktu. Pasukan Irak masih harus menghadapi penembak jitu, tembakan mortir, bom bunuh diri dan juga pesawat tanpa awak (drone) yang menjatuhkan granat di sekitar area tersebut. 

Di Baghdad, Perdana Menteri Haider al-Abadi mengatakan bahwa ISIS sudah semakin terkepung di Mosul. Ia meminta para militan ISIS untuk menyerah atau mati, namun menyebut akan memperlakukan keluarga mereka secara adil. 

"Kami akan menjaga keluarga (militan) Daesh yang berstatus warga sipil, tapi kami akan menghukum teroris dan menyeret mereka ke jalur hukum jika mereka menyerah," ungkap PM Abadi.


(WIL)