Serangan Udara Pasukan Assad Makin Intensif di Suriah

Arpan Rahman    •    Jumat, 23 Sep 2016 18:58 WIB
krisis suriah
Serangan Udara Pasukan Assad Makin Intensif di Suriah
Serangan baru menghantam wilayah di Suriah (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Aleppo: Pengeboman berat di kawasan Aleppo timur yang dikuasai pemberontak masih berlangsung hingga Jumat 23 September. Pengeboman dilakukan beberapa jam setelah militer Suriah mengumumkan serangan besar terhadap kota itu. 
 
Gelombang baru pemboman mulai pukul 6 pagi waktu setempat setelah serangan berat semalam. "Apa yang terjadi sekarang adalah pemusnahan," kata Kepala Layanan Keselamatan Pertahanan Sipil di Aleppo timur Ammar al Selmo, seperti disitir The Guardian, Jumat 23/9/2016).
 
"Pesawat Suriah menjatuhkan bom barel dan pesawat Rusia memulai serangan," kata Rami Abdel Rahman, kepala Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris. 
 
SOHR mencatat, sedikitnya 30 serangan udara telah dilancarkan dengan berbagai target. Ditambahkan, bahwa serangan yang muncul bertujuan untuk mengambil alih sedikit demi sedikit sektor timur Aleppo dan mengosongkan penduduknya.
 
Militer Suriah mengumumkan serangan baru pada Kamis 22 September. Pernyataan resmi tentara Suriah menyatakan: "Perintah tertinggi mengumumkan dimulainya operasi di timur Aleppo dan menyerukan kepada saudara-saudara dan seluruh warga untuk menjauh dari daerah di mana teroris beroperasi."
 
Pernyataan tersebut menyerukan warga sipil untuk pergi ke pos pemeriksaan rezim Suriah untuk diantar ke tempat yang aman.
 
Pemberitahuan tentara itu disusul pengeboman Aleppo timur dengan bom barel yang diangkut helikopter dan serangan udara dari pesawat tempur, yang telah diintensifkan sejak Kamis.
 
Pengamat senior di Middle East Institute Charles Lister mengatakan, rezim Assad tidak bisa diharapkan tunduk setelah konvoi bantuan PBB dimangsa serangan udara brutal selama dua jam. 
 
"Diktator genosida di Damaskus itu mempermainkan kita seperti orang bodoh," tutur Lister.
 
"Saya minta maaf harus mengatakan, bahwa AS telah kehilangan banyak kredibilitas melalui pendekatan kebijakannya untuk Suriah. Memprioritaskan diplomasi di atas segalanya adalah pendekatan berani dan terpuji, tetapi ketika itu secara konsisten gagal menghasilkan sesuatu yang baik selama lima tahun berturut-turut, mungkin sudah waktunya untuk mempertimbangkan langkah-langkah baru dan lebih tegas?" tegas Lister.
 
Sejak Senin 19 September, angkatan udara Suriah telah meningkatkan pemboman atas wilayah yang dikuasai pemberontak, dan baik Rusia maupun Suriah telah terlibat dalam serangan terhadap konvoi bantuan, yang dinilai oleh PBB sebagai kejahatan perang yang potensial.
 
Pada Kamis 22 September, Suriah American Medical Society, yang beroperasi dan mendukung beberapa rumah sakit di negara itu, menurut salah seorang fasilitator di Aleppo, dijatuhi semalam dengan bom tandan. PBB mengatakan, sebuah klinik telah hancur di distrik Khan Tuman, menewaskan staf medis dan warga sipil masih dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan.
 
Presiden Suriah, Bashar al-Assad, membantah pemerintahnya bertanggung jawab atas pemboman berulang kali atas beberapa rumah sakit. "Kami tidak menyerang rumah sakit apapun," katanya kepada Associated Press. "Ini tentang bagaimana kita dapat membantu para teroris, jika kita menyerang rumah sakit, sekolah, dan tempat-tempat seperti ini," imbuh Assad.
 
Assad juga menolak kritik pasukannya menggunakan bom barel, berpeti-peti bahan peledak berbahaya tinggi yang paling sering dijatuhkan di daerah perkotaan dari helikopter. Dia mengatakan, fokus pada senjata tersebut adalah karena media. "Di media, 'ketika berdarah, itu sudah mengarah'," cetusnya.
 
"Sebuah bom adalah bom, apa perbedaan antara berbagai jenis bom? Semua bom akan membunuh, tapi bagaimana menggunakannya," katanya. "Ketika Anda menggunakan persenjataan, Anda memakainya untuk membela warga sipil. Anda membunuh teroris untuk melindungi sipil," ungkap Assad.
 
Rincian terbaru tentang kengerian dari pengeboman hebat itu muncul pada Kamis 22 September: kematian tujuh orang sekeluarga di lingkungan al-Kallaseh, Aleppo, pada Rabu 21 September malam. Para korban tewas termasuk seorang anak 14 tahun, Ayham, dan dua bayi berusia lima dan sembilan bulan, bernama Laren dan Hana'a.
 
Keluarga lain bertahan selama berjam-jam di bawah reruntuhan rumah mereka sebelum diselamatkan oleh sang ayah.
 
"Pesawat-pesawat tidak meninggalkan langit kota, pengeboman berlangsung terus-menerus dan tanpa pandang bulu," kata salah seorang aktivis di Aleppo timur. 
 
Bentrokan keras mencekam pinggiran kota setelah serangan udara memicu kebakaran besar. Para aktivis lokal menyalahkan bom-bom api.
 
Seorang warga mengirim pesan suara, dua jam setelah tengah malam. "Ini sangat dekat dengan rumah saya dan saya bisa melihat api. Ada api di langit," katanya. 



(FJR)