Pertempuran Sengit di Suriah Perburuk Situasi Kemanusiaan

Arpan Rahman    •    Sabtu, 30 Dec 2017 17:09 WIB
krisis suriah
Pertempuran Sengit di Suriah Perburuk Situasi Kemanusiaan
Sebuah toko yang hancur akibat serangan di Provinsi Idlib (Foto: AFP).

Idlib: Pertempuran intensif menewaskan puluhan orang di ujung provinsi Suriah terakhir yang sepenuhnya di luar kendali pemerintah. Saat bersamaan, petugas bantuan menyelesaikan serangkaian evakuasi medis dari daerah pemberontak lainnya, pada Jumat 29 Desember.
 
Pasukan pemerintah dan sekutu yang didukung pesawat tempur Rusia menyerang sebagian besar pejuang militan di daerah yang membentang di perbatasan antara Provinsi Idlib dan Hama.
 
 
Peperangan, yang bisa menandakan dimulainya serangan besar merebut Provinsi Idlib dari pemberontak yang didominasi mantan afiliasi Al-Qaeda, meningkat pada Kamis.
 
"Sejak itu, setidaknya 68 orang tewas dalam bentrokan yang masih berlangsung, terpusat di sekitar daerah yang disebut Al-Tamana," kata pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), seperti dikutip AFP, Sabtu 30 Desember 2017.
 
"Di antara mereka setidaknya ada 21 warga sipil," kata Rami Abdel Rahman, yang mengepalai badan monitor SOHR yang berbasis di Inggris.
 
"Mereka tewas dalam serangan udara yang dilakukan pesawat tempur Rusia dan terkena bom laras yang dijatuhkan oleh pesawat Suriah," katanya.
 
Dua puluh tujuh tentara dan anggota unit paramiliter sekutu tewas dalam pertempuran tersebut serta 20 gerilyawan dari kelompok Islam atau mantan afiliasi Al-Qaeda, Fateh al-Sham, ia menambahkan.
 
Abdel Rahman berkata bahwa kematian terakhir membuat jumlah warga sipil terbunuh di wilayah tersebut sejak Senin mencapai 42 orang dan jumlah korban tewas di antara pejuang menjadi 90 orang.
 
Terburuk sejak beberapa bulan
 
Koresponden AFP di dekat garis depan mengatakan bahwa aktivitas udara sangat kuat dan seluruh area diguncang serangan udara yang kerap tersebar.
 
Melalui pengeras suara, pemimpin pemberontak memperingatkan warga sipil yang tersisa bahwa Salat Jumat dibatalkan dan semua penduduk harus tinggal di rumah.
 
Ratusan warga sipil melarikan diri dari beberapa desa di daerah tersebut, menciptakan antrean mobil dan truk pikap yang disarati tas dan perabotan di jalan menuju kota Idlib.
 
Di sebelah tenggara Al-Tamana, seorang juru kamera Suriah yang bekerja untuk jaringan televisi Sama pro-rezim dibunuh pada hari Jumat saat krunya menjadi sasaran 'teroris' di dekat desa Umm Haratain, kantor berita negara SANA mengatakan.
 
"Serangan udara belum lama berlangsung di daerah ini," kata Abdel Rahman, sambil menambahkan bahwa tujuan dari tekanan rezim terbaru ialah merebut kembali kendali di sebelah tenggara provinsi ini.
 
Kelompok militan Islamic State (ISIS), yang memproklamirkan sebuah 'kekhalifahan' di wilayah Suriah dan Irak pada 2014, kini telah kehilangan hampir semua wilayah yang pernah dikuasainya.
 
Namun faksi lain yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad masih mengendalikan kantong-kantong yang tersebar di seluruh Suriah, provinsi terbesar termasuk Idlib, yang berbatasan dengan Turki.
 
Yang lainnya meliputi Ghouta Timur, sebuah daerah kantong kecil di sebelah timur Ibu Kota Damaskus, yang sebagian besar dikendalikan oleh pemberontak dari kelompok Jaish al-Islam dan di mana sekitar 400.000 penduduk masih tinggal.
 
Penyerbuan Ghouta
 
Situasi kemanusiaan di sana memburuk tajam dalam beberapa bulan terakhir dan pada Jumat petugas bantuan menyelesaikan serangkaian evakuasi medis dari beberapa kasus yang paling penting.
 
Sebanyak 13 orang yang terakhir dalam kelompok terdiri dari 29 pasien prioritas kini telah dievakuasi, bersama 56 anggota rombongan mereka, seorang pejabat kesehatan mengatakan.
 
Mereka dianggap sebagai salah satu kasus paling mendesak dalam daftar sekitar 500 orang yang menurut PBB bulan lalu dapat mati tanpa perawatan segera di luar daerah kantong, yang terkepung selama empat tahun.
 
Di antara mereka Marwa, wanita berusia 26 tahun yang menderita meningitis dan Zuheir Ghazzawi, anak laki-laki 10 tahun dengan kanker yang telah diamputasi kakinya.
 
SOHR mengatakan bahwa pasien tersebut dievakuasi sebagai bagian dari kesepakatan yang diizinkan pemberontak yang menyekap sandera dan tahanan di Ghouta Timur.
 
Juga 29 orang di antaranya, termasuk pekerja yang ditahan awal tahun ini dan pejuang pro-pemerintah yang ditangkap pemberontak di daerah tersebut, dalam beberapa kasus bertahun-tahun yang lalu.
 
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyambut baik evakuasi tersebut sebagai "langkah positif".
 
"Tapi lebih banyak yang perlu dilakukan, kebutuhan warga sipil harus dipenuhi lebih dulu, baik di Ghouta atau di tempat lain di Suriah, dan akses terhadap bantuan harus diperbolehkan secara lebih teratur dan tanpa syarat," kata kepala ICRC, Marianne Gasser.
 
Puluhan militan dan pemberontak dievakuasi dari sebuah kubu penting di dekat Damaskus di bawah kesepakatan dengan rezim Suriah, lapor televisi pemerintah.
 
Dikatakan 10 bus mengangkut pejuang Al-Nusra dan anggota keluarga mereka dari Ghouta Barat ke Provinsi Idlib dan Daraa.
 
Front Al-Nusra sekarang menyebut dirinya Front Fateh al-Sham. Mereka mantan afiliasi Al-Qaeda yang mendominasi provinsi utara Idlib.
 
Kantor berita SANA melaporkan bahwa puluhan mayat warga sipil dan tentara Suriah yang dibunuh oleh militan ISIS sudah ditemukan di dua kuburan massal di sebelah barat provinsi Raqa.
 
Tidak jelas kapan mereka terbunuh atau berapa jumlah mayat di sana.



(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

1 day Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA