Korban Gempa Iran Menggigil Kedinginan Tunggu Bantuan

Arpan Rahman    •    Rabu, 15 Nov 2017 19:27 WIB
gempa bumiiran
Korban Gempa Iran Menggigil Kedinginan Tunggu Bantuan
Warga Iran yang menjadi korban gempa harus menghadapi cuaca dingin (Foto: AFP).

Sarpol-e Zahab: Lelah dan diterpa dingin membeku, selamat dari gempa akhir pekan lalu di Iran barat. Mereka yang jadi korban memohon pemerintah, minta makanan dan tempat berlindung, pada Selasa 14 November. Seraya mengatakan, bantuan untuk mereka begitu lamban.

Pejabat Iran membatalkan operasi penyelamatan di pagi Rabu 15 November, dengan alasan hanya sedikit kesempatan menemukan lebih banyak korban selamat dari gempa, yang menewaskan setidaknya 530 orang dan melukai ribuan lainnya. Inilah gempa paling mematikan di Iran dalam lebih dari satu dekade.

(Baca: Korban Tewas Akibat Gempa Iran Meningkat Jadi 450 Orang).

Para korban selamat, banyak yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter, Minggu, yang melanda pedesaan dan kota-kota di provinsi Kermanshah, sepanjang perbatasan pegunungan dengan Irak. Mereka berjuang melewati hari-hari suram, pada Selasa. Semua membutuhkan makanan, air, dan tempat tinggal.

Iran sejauh ini menolak tawaran bantuan asing demi mengatasi keguncangan tersebut. Menurut pejabatnya, kerusakan dialami 30.000 rumah dan menghancurkan dua desa secara total.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan ucapan belasungkawa, kata juru bicara Gedung Putih. "Amerika mengungkapkan rasa simpati dan belasungkawa yang tulus kepada mereka yang terkena dampak gempa di Irak utara dan Iran," katanya. Ia menambahkan bahwa Washington belum menerima permohonan dari pemerintah Irak meminta bantuan.

Presiden AS Donald Trump, yang sedang melakukan perjalanan kembali ke Washington setelah melakukan perjalanan ke Asia, telah bersikap sangat kritis terhadap Iran.

"Kami lapar. Kami kedinginan. Kami jadi tunawisma. Kami sendirian di dunia ini," Maryam Ahang menangis, kehilangan 10 anggota keluarganya, di kota paling parah, Sarpol-e Zahab, berkata kepada AFP.

"Rumah saya sekarang hanya tumpukan lumpur dan ubin rusak. Saya tidur di taman tadi malam. Kedinginan dan saya takut," rintihnya, seperti disitir Japan Times, Rabu 15 November 2017.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei mendesak badan-badan pemerintah, Selasa, guna mempercepat upaya bantuan. Presiden Hassan Rouhani berkunjung ke wilayah yang tertimpa bencana, berjanji menyelesaikan "masalah dalam waktu sesingkat-singkatnya".

Ribuan orang meringkuk di kamp penampungan. Sementara banyak lainnya memilih untuk menghabiskan malam yang lebih dingin lagi di tempat terbuka. Sebab mereka takut getaran lebih keras setelah beberapa gempa susulan.

(Baca: Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa, Iran Fokus Bantu Warga Selamat).

Di sejumlah daerah, tidak ada bangunan yang masih berdiri, dan berbagai sudut sepi, karena mereka takut bisa runtuh setiap saat. Rumah-rumah di pedesaan Iran yang miskin kebanyakan terbuat dari balok beton atau batu bata dari lumpur, yang dapat dengan cepat ambruk dan rubuh dalam gempa yang kuat.

Televisi pemerintah menyiarkan rekaman penduduk desa yang menangis, membawa mayat terbungkus selimut dan seprai berlumuran darah. Menggaruk-garuk dengan tangan mereka membongkar reruntuhan demi mencari teman dan keluarga.

"Sepupuku yang ulang tahun. Semua kerabat ada di bawah sana, mungkin 50 orang. Tapi sekarang hampir semuanya sudah mati," Reza, yang menolak menyebut nama lengkapnya, berkata kepada AFP di kota Sarpol-e Zahab. Dia kehilangan 34 anggota keluarganya di hari Minggu.

"Kami menghabiskan dua malam dalam cuaca dingin. Dimana bantuannya?," gugatnya.

Di sisi perbatasan Irak, sembilan orang tewas dan lebih dari 550 terluka, semuanya di provinsi Kurdi utara.

Televisi menayangkan pekerja penyelamat menyisir puing-puing belasan desa segera setelah terjadi gempa. Namun, pada Selasa pagi, pejabat Iran mengatakan tidak ada lagi kemungkinan menemukan korban selamat dan menghentikan pencarian.

Rumah-rumah sakit di provinsi-provinsi terdekat mencatat banyak korban yang terluka, seperti laporan televisi pemerintah, yang  menayangkan gambar korban selamat menunggu diobati. Ratusan korban luka kritis dikirim ke rumah sakit di Teheran.

Bulan Sabit Merah Iran mengatakan bahwa tempat penampungan darurat sudah disediakan bagi ribuan orang tunawisma. Namun kekurangan listrik dan air, serta jalan yang putus, menghambat usaha pasokan bantuan.

"Orang-orang di beberapa desa masih sangat membutuhkan makanan, air, dan tempat tinggal," kata Faramraz Akbari, gubernur Qasr-e Shirin di provinsi Kermanshah.

TV pemerintah menunjukkan puluhan tenda hijau dan putih berserakan di Sarpol-e Zahab, yang banyak menampung dua sampai tiga keluarga. Sekelompok orang berkerumun di sekitar api unggun mencoba menghangatkan diri.

"Dingin. Anak-anak saya kedinginan. Kami memiliki air dan makanan tapi tidak ada tenda. Gempa tidak membunuh kita, tapi cuaca dingin akan membunuh kita," kata seorang wanita berusia 30-an.

Wali Kota Ezgeleh mengatakan 80 persen bangunannya telah runtuh. Korban selamat sangat membutuhkan tenda. Orang tua dan bayi-bayi sekira berusia satu tahun tidur menahan dingin selama dua malam berturut-turut.

"Orang-orang lapar dan haus," kata seorang pria setempat kepada kantor berita ISNA. "Tidak ada listrik. Tadi malam aku menangis saat melihat anak-anak tanpa makanan atau tempat berlindung," cetusnya.

Beberapa orang marah karena di antara bangunan yang ambruk itu adalah rumah-rumah yang dibangun di bawah skema perumahan murah yang dimulai pada 2011 oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

"Rakyat harus membangun rumah sendiri. Mereka membangun rumah yang lebih baik daripada bangunan yang dibangun berdasarkan proyek dan skema," kata Rouhani di Kermanshah, TV pemerintah melaporkan. "Saya berjanji, mereka yang bertanggung jawab akan dihukum," tegasnya.

Iran berada di garis patahan geologi besar dan sudah mengalami beberapa gempa bumi yang menghancurkan dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk gempa 6,6SR pada 2003, yang meluluh-lantakkan Bam, kota tenggara yang penuh sejarah, tinggal debu serta membunuh sekitar 31.000 jiwa.



(FJR)