Militan Al-Shabaab Larang Warga Somalia Raih Bantuan Makanan

Fajar Nugraha    •    Kamis, 27 Jul 2017 16:11 WIB
somaliakelaparan
Militan Al-Shabaab Larang Warga Somalia Raih Bantuan Makanan
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Mogadishu: Kekhawatiran atas bencana kelaparan meluas di Somalia terus menguak. Terlebih lagi, militan Al-Shabaab menghalangi warga untuk mendapatkan bantuan.
 
Kelompok militan Al-Shabaab telah menerapkan larangan bagi bantuan kemanusiaan masuk ke dalam wilayah yang mereka kuasai. Mereka memaksa ribuan warga terancam kematian karena kelaparan atau penyakit. 
 
Hal itu dianggap sebagai hukuman brutal bagi mereka yang mencoba melanggar aturan dari Al-Shabaab. Bahkan di beberapa kota, warga yang sudah dalam kondisi lemah dan kelaparan dipaksa untuk diam di tempat serta dijadikan tameng hidup atas serangan udara Amerika Serikat (AS).
 
Kondisi ini memperburuk situasi di Somalia yang menghadapi kekeringan terparah dalam waktu 40 tahun terakhir. Keadaan makin memburuk dengan kondisi Somalia dipenuhi perang dan pemerintahan yang tidak berfungsi.
 
Berdasarkan keterangan dari warga setempat, terungkap bahwa populasi dalam jurang kehancuran. Banyak anak-anak dan warga lanjut usia yang sekarat akibat kelaparan.
 
Al-Shabaab disebut-sebut mengancam akan menghukum warga jika melakukan kontak dengan lembaga kemanusiaan. Namun di lain pihak, menurut lembaga kemanusiaan, undang-undang anti teror yang dikeluarkan AS dan Inggris membuat mereka kesulitan untuk menurunkan bantuan.
 
Sekitar 500 ribu warga lagi membutuhkan bantuan kemanusiaan. Angka itu menambah jumlah warga yang membutuhkan kemanusiaan menjadi 6,7 juta jiwa. Hampir setengah dari jumlah itu terancam kelaparan parah jika tidak menerima bantuan.
 
Salah satu penyebab tingginya angka kematian akibat kelaparan enam tahun lalu, adalah blokade yang diterapkan oleh Al-Shabaab terhadap bantuan kemanusiaan. Kini kelompok militan itu, sepertinya mulai melunak dan menimbulkan kecurigaan bahwa pemimpin Al-Shabaab enggan disalahkan atas bencana kelaparan.
 
Namun pendekatan lain muncul sejak akhir Juni 2017 lalu. Kemungkinan hal ini dipicu oleh perebutan kekuasaan di dalam tubuh Al-Shabaab sendiri.
 
Tiyeglow,-salah satu kota yang dikendalikan Al-Shabaab,- di wilayah Bakool menjadi wilayah yang paling parah terkena bencana kelaparan. 
 
"Warga di Tiyeglow sangat kelaparan. Al-Shabaab tiba-tiba menghentikan lembaga kemanusiaan yang ingin memberikan bantuan kepada warga yang kelaparan. Ini yang menyebabkan warga melakukan evakuasi mencari makanan," ujar seorang warga, Ibrahim Abdirahman Mohamed, seperti dikutip Guardian, Kamis 27 Juli 2017.
 
"Anak-anak yang berusia di bawah lima tahun dalam kondisi sangat berisiko, karena tingkat kekurangan nutrisi sangat tinggi. Jika blokade Al-Shabaab ini berlanjut, kita akan melihat lebih banyak anak-anak yang sekarat," imbuh Mohamed.
 
Sebuah survei dari organisasi Save the Children yang dipublikasikan, Juni lalu menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang menderita malnutrisi sangat tinggi. Tercatat empat dari sembilan distrik di wilayah selatan dan pusat Somalia dilanda malnutrisi. Di distrik Mataban, 9,5 persen anak berusia di bawah lima tahun tidak mendapatkan gizi dengan baik.
 
Adapun survei yang dilakukan ini difokuskan pada wilayah yang dikendalikan oleh Al-Shabaab. Pihak Save the Children di Somalia menyebutkan, setiap bantuan yang datang, selalu dilokalisir oleh pihak Al-Shabaab.



(FJR)