Erdogan: Kanselir dan Politikus Jerman Musuh Turki

Marcheilla Ariesta    •    Sabtu, 19 Aug 2017 12:19 WIB
turki
Erdogan: Kanselir dan Politikus Jerman Musuh Turki
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut politisi penguasa Jerman sebagai musuh negaranya (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Ankara: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut politisi penguasa Jerman sebagai 'musuh Turki' yang pantas ditolak oleh warga Jerman asal Turki.
 
Pernyataan Erdogan ini dilontarkan menyusul akan dilakukannya pemilihan umum di Jerman pada 24 September mendatang. Pasalnya, ada sekitar satu juta etnis Turki yang tinggal di Jerman ikut menjadi peserta pemilu.
 
Mayoritas warga Turki di Jerman merupakan pemilih Erdogan dalam referendum yang dilakukan April lalu.
 
"Demokrat Kristen (CDU), Partai Sosial Demokrat (SPD), Partai Hijau mereka semua adalah musuh Turki," serunya, seperti dilansir dari laman BBC, Sabtu, 19 Agustus 2017.
 
Para menteri Jerman memprotes pernyataan Erdogan tersebut. Menteri Luar Negeri Sigmar Gabriel menyebutkan ap yang diucapkan Erdogan merupakan tindakan ikut campur pada kedaulatan Jerman.
 
"Tindakan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Yang dilakukannya adalah campur tangan atas kedaulatan Jerman," tukas Gabriel.
 
Pernyataan ini disampaikan Erdogan usai melakukan salat Jumat. Dia meminta warganya untuk memilih partai yang tidak terlibat 'permusuhan' dengan Turki.
 
"Berikan dukungan yang diperlukan kepada partai politik yang tidak terlibat dalam permusuhan melawan Turki. Tidak penting apakah mereka partai pertama atau kedua. Ini adalah perjuangan saya menghormati semua warga Turki yang tinggal di Jerman," katanya.
 
Hal ini tentu menyiratkan bahwa pemilih asal Turki harus mendukung partai-partai sayap kanan dan oposisi.
 
Sebelum insiden ini, Erdogan mengecam Jerman. Namun kedua negara tetap berhubungan sebagai mitra dagang dan sekutu utama di NATO.
 
Erdogan marah lantaran sebelumnya pemerintah Jerman menolak beberapa wakilnya berkampanye untuknya di negara itu sebelum pemungutan suara pada April lalu. Penolakan itu dianggap menutup jalannya untuk memenangkan referendum.
 
"Penolakan yang mereka (Jerman) lakukan merupakan perilaku 'gaya Nazi'," serunya kala itu.
 
Referendum dilakukan Erdogan setelah usaha kudeta militer yang gagal terhadapnya pada Juli tahun lalu. Akibat usaha tersebut, sedikitnya 240 orang tewas.
 
Erdogan menyalahkan jaringan ulama Fethullah Gulen yang berbasis di Amerika Serikat sebagai dalang dibalik rencana kudeta tersebut. Dia juga menuduh Jerman melindungi para pendukung Gulen yang tinggal di sana.



(FJR)