Protes Kenaikan Harga Roti, Siswa SMA di Sudan Tewas

Arpan Rahman    •    Selasa, 09 Jan 2018 18:59 WIB
konflik sudan
Protes Kenaikan Harga Roti, Siswa SMA di Sudan Tewas
Roti menjadi makanan paling penting warga Sudan yang hidup dalam kemiskinan (Foto: AFP).

Geneina: Protes atas kenaikan harga roti meluap di seantero Sudan, pada Minggu 7 Januari 2018. Menyebabkan kematian seorang murid Sekolah Menengah Atas dan penangkapan seorang pemimpin oposisi terkemuka. 
 
Selain itu, pihak berwenang menyita surat kabar dan mulai memberangus kerusuhan yang terus berlanjut.
 
Demonstrasi tersebut menyusul sebuah demonstrasi serupa di kota tenggara Sennar, pada Sabtu 6 Januari 2018. Aksi unjuk rasa digelar setelah harga roti membubung berlipat ganda menyusul pengumuman pemerintah akhir bulan lalu bahwa pihaknya telah menghapus subsidi dalam anggaran tahun 2018.
 
Di kota Al-Damazin di tenggara, polisi menembakkan gas air mata kepada sekitar 400 demonstran yang meneriakkan "Tidak, tidak ada kenaikan harga!" Beberapa orang membakar ban, kata seorang penduduk setempat, seperti dikutip Guardian, Selasa 9 Januari 2018.
 
Pemotongan subsidi menjadi bagian dari langkah-langkah paket penghematan seiring perjuangan negara tersebut dalam menghadapi inflasi yang merangkak sekitar 33 persen. Di sela merosot tajamnya nilai mata uang keras yang menurunkan aktivitas impor.
 
Langkah-langkah di Sudan telah memicu protes publik sporadis dalam beberapa tahun terakhir. Amnesty International mengatakan bahwa hingga 185 orang mungkin terbunuh pada 2013 ketika ribuan orang turun ke jalan dalam demonstrasi menentang kenaikan harga bahan bakar.
 
Protes telah jauh mereda sejak saat itu, dan partai oposisi terkemuka menyerukan demonstrasi damai menentang kenaikan harga roti.
 
Protes Ahad menyebar ke pusat kota Khartoum dan juga kota-kota lain di selatan, Nyala dan Geneina.
 
Seorang murid SMA terbunuh dan setidaknya lima lainnya luka-luka di Geneina saat demonstrasi, menurut sebuah pernyataan dari gubernur kota ini. Namun tidak terungkap alasan atas kematian tersebut, hanya berkilah bahwa insiden tersebut akan diselidiki.
 
Pihak berwenang menangkap Omar al-Dukair, pemimpin salah satu kelompok oposisi terbesar di negara itu, Partai Kongres Sudan, seperti dikatakan para anggota partai tersebut.
 
Pihak berwenang juga memblokade penjualan enam surat kabar harian yang membuat liputan kritis tentang pemotongan subsidi dan kenaikan harga. Kementerian Dalam Negeri Sudan tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar.
 
Sudan sudah memulai serangkaian reformasi ekonomi sesuai dengan rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) guna mencoba memperkuat ekonomi. Itu terjadi beberapa bulan menyusul keputusan AS mencabut sanksi, harapan yang sangat dibutuhkan agar investasi dapat kembali.



(FJR)