Turki: Trump Tutup Mata Atas Pembunuhan Khashoggi

Fajar Nugraha    •    Jumat, 23 Nov 2018 18:05 WIB
Jamal Khashoggi
Turki: Trump Tutup Mata Atas Pembunuhan Khashoggi
Jamal Khashoggi dikenal sebagai pengkritik keras Kerajaan Arab Saudi. (Foto: AFP).

Ankara: Turki mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sengaja tutup mata atas pembunuhan wartawan Arab  Saudi Jamal Khashoggi. Ini terkait ucapan Trump yang mengatakan kematian Khashoggi tidak akan mempengaruhi hubungan Washington dengan Riyadh.

Baca juga: Soal Khashoggi, Trump Tetap Dukung Arab Saudi.

Dukungan Trump terhadap Arab Saudi dilontarkan meskipun kemarahan global atas pembunuhan mengerikan 2 Oktober itu. Insiden ini telah mencoreng baik Kerajaan Arab Saudi dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

"Dalam satu pengertian, Trump mengatakan 'Saya akan menutup mata' tidak peduli apa yang terjadi," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam sebuah wawancara dengan CNN Turki, seperti dikutip AFP, Jumat, 23 November 2018.

"Ini bukan pendekatan yang tepat. Uang tidak berarti segalanya," kata Cavusoglu, mengacu pada dukungan berkelanjutan Trump untuk Arab Saudi, yang telah melakukan miliaran dolar dalam kontrak senjata AS.

Trump pada Selasa memoles kesimpulan yang dilaporkan oleh Central Intelligence Agency (CIA) bahwa  kemungkinan putra mahkota telah mengizinkan pembunuhan itu.

"Mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak!" Trump mengatakan, menyiratkan keterkaitan Pangeran Muhammed dalam pembunuhan Khashoggi. Trump dikecam secara luas karena lebih memprioritaskan perdagangannya yang membuatnya tampak lebih seperti pelobi untuk Riyadh.

Jamal Khashoggi dikenal sebagai pengkritik Kerajaan Arab Saudi. Dia tewas dibunuh di gedung Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, oleh 15 agen Arab Saudi. Tubuh Khashoggi diketahui dimutilasi dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya.

Arab Saudi telah menahan 21 orang dalam tahanan atas pembunuhan itu dan membantah Pangeran Muhammad turut terlibat. AS pun menjatuhkan sanksi pada 17 warga Saudi, yang juga menargetkan dua ajudan utama untuk putra mahkota dengan membekukan aset di bawah yurisdiksi AS dan melarang perusahaan AS melakukan bisnis dengan mereka.

Jerman pada Senin mengatakan Berlin akan melarang 18 warga Saudi memasuki wilayahnya dan zona bebas paspor Schengen Eropa atas dugaan terkait dengan pembunuhan itu. Pada Oktober, Jerman menyerukan negara-negara Uni Eropa untuk mengikuti jejaknya dan menangguhkan penjualan senjata ke Arab Saudi, mendorong tanggapan yang meremehkan dari Prancis, pelanggan terbesar kedua kerajaan setelah India.

Namun Denmark pada Kamis mengikuti, membekukan semua penjualan senjata dan peralatan militer ke Riyadh. Cavusoglu mengatakan ‘tindakan buatan’ tidak akan membantu menyelesaikan krisis. Dia menambahkan Ankara akan melakukan apa saja untuk menjelaskan pembunuhan itu.


(FJR)