Akhir Manis Qibtiyah Terima Gaji Rp266 Juta dari Majikan

Fajar Nugraha    •    Selasa, 01 May 2018 12:27 WIB
perlindungan wni
Akhir Manis Qibtiyah Terima Gaji Rp266 Juta dari Majikan
WNI Qibtiyah bersama dengan Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dan Dubes Arab Saudi untuk RI Osama bin Muhammad Al Shuaibi (Foto: KBRI Riyadh).

Riyadh: Berkah datang bagi warga negara Indonesia (WNI) berusia 74 tahun bernama Jumanti alias Qibtiyah. Selama 28 tahun dia bekerja di Arab Saudi dan terputus kontak dengan keluarganya di Jember, Jawa Timur.
 
Pada 29 April 2018 atau satu hari menjelang May Day, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Muhammad Al Shuaibi, menjadi saksi penyerahan gaji Nenek Qibtiyah.
 
Perempuan asal Jember ini menerima gaji dari majikan ketiganya yang diwakili oleh keponakan majikan, Kapten Ibrahim Muhammad, sebesar 76 Ribu Riyal atau sekitar Rp266 juta.
 
"Dia (Kapten Ibrahim Muhammad) sedih karena nenek akan pulang," ujar Dubes Agus, kepada Medcom.id, Selasa 1 Mei 2018.


Nenek Qibtiyah bersama dengan Kapten Ibrahim Muhamad (berpakaian militer) (Foto: KBRI Riyadh).
 
Nenek Jumanti alias Qibtiyah bisa ditemukan oleh Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh setelah mendapatkan bantuan dari Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud, keponakan Raja Salman yang juga menjabat Gubernur Riyadh.
 
(Baca: 28 Tahun Hilang, Nenek 74 Tahun Ditemukan di Arab Saudi).
 
Sebagai wakil keluarga majikan, Kapten Ibrahim mengatakan bahwa sebenarnya Nenek Qibtiyah ini sudah dia anggap seperti ibunya sendiri dan keluarganya akan merasa kehilangan ketika Nenek Jumanti alias Qibtiyah pulang ke Indonesia.
 
Dubes Saudi untuk Indonesia, Osama sempat bertanya dengan bahasa Arab kepada Nenek Qibtiyah: "Ingin tinggal terus di Arab Saudi atau pulang ke Indonesia?".
 
Sang Nenek langsung menjawab: "Tinggal di Saudi juga bagus dan pulang ke Indonesia juga bagus". Jawaban sang Nenek yang sudah mulai 'pelupa' ini mengundang tawa semua yang hadir di Kantor Dubes RI untuk Arab Saudi tersebut.
 
Kemudahan untuk jemaah Haji Indonesia
 
Di samping menyelesaikan hak Nenek Qibtiyah ini, dua Dubes juga membahas tentang program kemudahan-kemudahan untuk jamaah Haji Indonesia terutama yang terkait dengan basis data integrasi biometrik yang akan diberlakukan dalam musim haji tahun ini guna mempercepat proses imigrasi.
 
Jika program ini berhasil maka proses antrean di bandara Jeddah dan Madinah akan lancar dan tanpa antrean panjang.
 
Dubes Agus menandaskan bahwa untuk komitmen menguatkan poros bilateral SAUNESIA (SAUDI-INDONESIA), kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama.
 
"Kami berdua berjanji untuk saling kunjung ketika masing-masing dari kami berdua berada di Jakarta atau pun di Riyadh. Silaturrahim diplomatik ini sangat sangatlah penting untuk mencari solusi permasalahan-permasalahan strategic partnership di antara kedua negara besar ini," tutur Dubes Agus.  
 
Sementara untuk nenek Qibtiyah, KBRI sedang melengkapi dokumen untuk kepulangan Nenek Qibtiyah dengan intensif berkomunikasi dengan Kemenlu Arab Saudi, Imigrasi dan Kementerian dalam negeri Arab Saudi.?
 
Hingga saat ini, isu pekerja migran Indonesia masih menjadi perhatian utama hubungan kedua negara. Pada 2016, KBRI Riyadh berhasil menyelamatkan gaji ekspatriat Indonesia sebesar Rp30 Miliar, sedangkan pada 2017 jumlah gaji yang diselamatkan mencapai angka Rp40 Miliar.
 
Kabar mengenai Qibtiyah tentunya menjadi napas segar di tengah berita pekerja Indonesia di luar negeri, khususnya Arab Saudi yang umumnya dipenuhi dengan kemalangan.
(FJR)