Zambia Buru Penjual dan Pembeli Boneka Seks

Willy Haryono    •    Senin, 12 Mar 2018 13:22 WIB
politik zambia
Zambia Buru Penjual dan Pembeli Boneka Seks
Kepolisian Zambia hendak membubarkan sebuah demonstrasi di Lusaka, 15 Januari 2018. (Foto: AFP/DAWOOD SALIM)

Lusaka: Tidak ada yang menjualnya secara terbuka, tidak ada yang mengaku memilikinya, dan tidak ada satu pun yang ditangkap -- tapi Zambia kini sedang melancarkan kampanye untuk memberantas peredaran boneka seks. 

Operasi pemerintah itu dilakukan sejak bulan lalu, dengan mengancam hukum penjara bagi pelanggar. Zambia menilai boneka seks adalah sesuatu yang "sangat aneh."

Langkah pemberantasan ini menjadikan boneka seks sebagai isu nasional Zambia. Pro dan kontra pun bermunculan di tayangan televisi serta media sosial. 

"Sebagai negara mayoritas Kristen, tentu saja kita berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Salah satu nilai itu adalah moralitas dan etika," ujar Menteri Agama Zambia Godfridah Sumaili kepada AFP, Senin 12 Maret 2018. 

Sumaili menegaskan menjual maupun membeli boneka seks bertentangan dengan hukum Zambia. Ia juga memastikan tidak ada orang yang menjual atau membelinya secara daring. 

"Menggunakan boneka seks tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai budaya kita," lanjut Sumaili. 

Larangan menjual dan membeli diberlakukan usai adanya laporan bahwa komoditas boneka seks dalam jumlah besar telah masuk ke Zambia dari Asia. Kepolisian Zambia sedang menyelidiki hal tersebut. 

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah media Zambia menuliskan laporan mengenai bermunculannya boneka seks di ibu kota Lusaka. 

"Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk kepuasan seksual. Menggunakan objek mati untuk kepuasan seksual adalah perbuatan tak bermoral," tutur Sumaili.


(WIL)