Yaman Bisa Jadi Krisis Kemanusiaan Terburuk dalam 50 Tahun

Arpan Rahman    •    Sabtu, 06 Jan 2018 14:11 WIB
konflik yamankrisis yaman
Yaman Bisa Jadi Krisis Kemanusiaan Terburuk dalam 50 Tahun
Bocah Yaman mengantre untuk mendapatkan perawatan (Foto: AFP).

Sanaa: Rakyat Yaman yang dilanda perang menghadapi situasi yang mirip dengan kiamat. Hal ini disampaikan oleh kepala lembaga kemanusiaan PBB, Mark Lowcock.
 
Ia memperingatkan bahwa negara tersebut bisa dilanda bencana kemanusiaan terburuk dalam setengah abad.
 
Negara termiskin di dunia Arab telah mengalami hampir tiga tahun perang antara pemberontak Houthi dan pasukan didukung Arab Saudi, yang setia kepada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diasingkan.
 
Konflik ini memiliki dampak yang menghancurkan. Menyebabkan kelangkaan pangan dan wabah kolera besar serta membuat jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
 
"Situasi di Yaman sekarang, bagi penduduk negara, terlihat seperti kiamat," kata Mark Lowcock, bawahan Sekretaris Jenderal PBB untuk koordinasi kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat PBB, Jumat.
 
"Wabah kolera mungkin adalah yang terburuk yang pernah dialami dunia dengan satu juta kasus yang diperkirakan sampai akhir 2017," bubuhnya seperti dinukil Al Jazeera, Sabtu 6 Januari 2018.
 
Lowcock mengatakan "epidemi baru yang mengerikan" difteri, penyakit bakteri yang harus benar-benar dapat dicegah dengan imunisasi, "menyerang hingga 500 orang dengan puluhan dan puluhan kematian" dalam beberapa pekan terakhir.
 
"Itu akan menyebar seperti kebakaran," tambahnya.
 
"Jika situasinya tidak berubah, kita akan mengalami bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama 50 tahun," sambungnya.
 
Situasi putus asa
 
Komentar Lowcock muncul saat Dana Darurat PBB (CERF) mengalokasikan USD50 juta buat mendukung upaya bantuan kemanusiaan di Yaman. Di negeri itu, lebih dari delapan juta orang berada di ambang kelaparan.
 
Jumlah tersebut merupakan alokasi terbesar yang pernah dikucurkan CERF dan mencerminkan situasi mengerikan di Yaman. Negeri ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia Arab sebelum dimulainya perang pada 2015.
 
Lowcock mengatakan bahwa uang tersebut akan membantu mempersiapkan bantuan yang diperlukan untuk tahun depan.
 
"Fakta bahwa saya harus melakukan itu jelas bukan tindakan yang berhasil, itu adalah tanda betapa putus asa situasinya," katanya kepada Al Jazeera.
 
Sebuah pernyataan PBB yang dikeluarkan pada Jumat mengatakan bahwa dana tersebut akan "memungkinkan peningkatan bantuan demi menyelamatkan jiwa yang mendesak" di Yaman. Selain akan diarahkan demi mencegah bencana kelaparan, serta membantu warga sipil yang terkena dampak konflik yang sedang berlangsung.
 
Sebagian dana juga akan digunakan untuk mendukung layanan publik yang memburuk di negara ini.
 
Rudal dicegat
 
Arab Saudi dan sekutu-sekutunya melakukan intervensi di negara tetangga Yaman pada Maret 2015. Upaya itu untuk memukul mundur Houthi, yang disebut-sebut didukung oleh Iran, dan memulihkan pemerintahan Hadi.
 
 
Badan-badan bantuan sudah berulang kali mengatakan bahwa serangan udara koalisi pimpinan Saudi dan blokade yang melemahkan pelabuhan udara dan laut di negara itu telah merampas area makanan, bahan bakar dan obat-obatan yang luas.
 
Blokade, yang diperketat November lalu, berkurang pekan minggu kemudian di bawah tekanan internasional yang besar.
 
Rumah sakit juga berjuang buat mengatasi permintaan di tengah epidemi kolera terburuk di dunia karena kekurangan catatan dan pasokan yang disebabkan oleh blokade tersebut.
 
Beberapa fasilitas medis juga dilaporkan hancur dalam serangan udara. Menurut PBB, konflik menewaskan lebih dari 10.000 orang dan pengungsi menjadi tiga juta orang.
 
Pengumuman bantuan Jumat datang saat Arab Saudi mengatakan bahwa mereka mencegat sebuah rudal yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi di sebuah instalasi militer di Najran.
 
Insiden ini yang terbaru dalam serangkaian serangan rudal yang diduga dilecut oleh Huthi, lalu dicegat Arab Saudi, termasuk yang menargetkan ibu kota Saudi, Riyadh.

 

 
(FJR)