Pemberontak Houthi Sandera 40 Staf Media di Yaman

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 06 Dec 2017 19:08 WIB
konflik yaman
Pemberontak Houthi Sandera 40 Staf Media di Yaman
Pemberontak Houthi masih menguasa Ibu Kota Yaman, Sanaa (Foto: AFP).

Sanaa: Pemberontak Yaman, Houthi menguasai seluruh ibu kota Sanaa selama hampir sepekan terakhir. Lebih dari 40 staf media menjadi sanderaan mereka.
 
Badan Pengawas Pers menuntut pembebasan pekerja media tersebut secepatnya, seperti dilaporkan AFP, Rabu, 6 Desember 2017.
 
Para staf media yang disandera termasuk di antaranya berasal dari Yemen Today. Saluran televisi ini berafiliasi dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.
 
Reporters Without Borders (RSF) melaporkan para pemberontak tersebut menguasa kantor televisi di Sanaa pada Sabtu lalu. Sebelumnya mereka menyerang kantor tersebut dengan granat berpeluncur roket dan melukai tiga penjaga.
 
"Penyanderaan ini khas iklim permusuhan di Yaman terhadap wartawan yang kerap menjadi sasaran konflik," ungkap Alexandra El Khazen dari RSF.
 
Juru bicara Komite Perlindungan Wartawan meminta pembebasan segera para jurnalis. Menurut mereka penyerangan pada wartawan ini merupakan penghinaan atas kebebasan pers.
 
"Orang-orang Houthi memberikan tekanan pada mereka untuk mengubah liputan mereka untuk mengeluarkan pernyataan dan melaporkan pengkhianatan atas mantan presiden Saleh dengan menuduhnya bekerja untuk koalisi Arab. Namun wartawan menolaknya," ujar sang jubir.
 
Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh tewas dalam perang melawan petempur sekutu Iran, Houthi, di kota Sanaa, Senin, 4 Desember waktu setempat. Saleh dikabarkan tewas oleh tembakan jarak jauh.
 
Stasiun televisi milik Arab Saudi, Al-Arabiya yang mengutip keterangan sejumlah sumber dari Kongres Rakyat Umum mengatakan, mantan presiden itu baru saja memutuskan memihak sekutu pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman. 
 
Sementara itu, video dari kelompok Houthi menunjukkan sesosok mayat, yang diduga jenazah Saleh. Stasiun radio dikuasai pemerintahan Houthi adalah yang pertama melaporkan kematian Salah. Namun, pada saat itu, Kongres Rakyat Umum membantah kabar tersebut, dengan menyatakan bahwa ia masih memimpin pasukan di Sanaa.
 
Pasukan Saleh, yang pada awalnya merupakan sekutu Houthi, terus terdesak oleh kelompok milisi tersebut pada hari keenam perang dalam kota yang menewaskan sedikitnya 125 orang dan meluakai 238 lainnya, demikian data dari Komite Internasional Palang Merah.



(FJR)