PBB: Ratusan Ribu Orang Terancam Mati Kelaparan di Kongo

Haifa Salsabila    •    Jumat, 19 Jan 2018 06:05 WIB
konflik kongokelaparan
PBB: Ratusan Ribu Orang Terancam Mati Kelaparan di Kongo
Seorang warga Niger membawa gandum dari ladang di tengah ancaman krisis makanan. (Foto: AFP / BOUREIMA HAMA).

London: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa bencana kelaparan sedang membayangi Republik Demokratik Kongo. Ratusan ribu orang terancam mati kelaparan akibat konflik yang meluas, pengungsian dan pendanaan yang kurang.

Dikutip dari Antara, PBB mencatat 3,2 juta orang kekurangan makanan akibat pertempuran antarmilisi yang meletus di wilayah pusat Kasai Kongo pada 2016 silam. Hanya satu dari delapan orang yang membutuhkan makanan yang mendapat bantuan bulan lalu di tengah kekurangan dana

"Ada tanda-tanda bahwa donor mulai merespons, namun sumber daya sangat tidak memadai mengingat skala penderitaan manusia," kata Claude Jibidar, direktur negara untuk Program Pangan Dunia (WFP), Jumat 19 Januari 2018.

Oleh karena itu, PBB meminta para donor agar menyediakan dana sebesar 1,7 miliar dolar untuk Kongo tahun ini. Permohonan dana tersebut merupakan yang terbesar ketiga setelah Suriah dan Yaman. Dari permintaan bantuan sebesar 812 juta dolar pada tahun 2017, hanya sekitar setengahnya yang didanai.

"Pemerintah Kongo dan masyarakat internasional harus kembali terlibat di semua bidang untuk mencegah bencana kelaparan hebat di Kasai," kata Jibidar dalam sebuah pernyataan. 

Ia menuturkan bahwa jika langkah tersebut tidak segera dilakukan, maka lebih dari 3,000 jiwa akan tewas, dan setidaknya 1,7 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Kasai sejak pemberontakan oleh milisi Kamuina Nsapu muncul. Kelompok itu menginginkan pasukan militer mundur dari wilayah tersebut.

Konflik telah membuat petani keluar dari tanah mereka dan mengganggu tiga musim tanam berturut-turut. Keadaan itu membuat orang-orang di daerah yang sangat bergantung pada pertanian tersebut menjadi kekurangan pasokan makanan, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

"Pertanian adalah satu-satunya cara untuk menjadi produktif lagi. Bukan hanya menghasilkan makanan dan pendapatan untuk keluarga, tapi juga memulihkan harapan, martabat dan kemandirian" kata perwakilan FAO Alexis Bonte.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan anak-anak (UNICEF) mengungkapkan bahwa lebih dari 400 ribu anak-anak di Kasai ikut menjadi korban pertempuran ini. Mereka yang rata-rata berusia lima tahun atau kurang telah menderita gizi buruk. 

"Mereka kemungkinan akan meninggal kecuali jika segera mendapat bantuan kesehatan, air, sanitasi dan nutrisi, " ujar Tajudeen Oyewale dari UNICEF. 

Kekerasan etnis di Kongo, negara terbesar kedua di Afrika, telah menyebar dan memburuk sejak Desember 2016 ketika Presiden Joseph Kabila menolak untuk mengundurkan diri pada akhir mandatnya.


(DEN)