Kelompok Pemberontak Houthi Bentuk Pemerintahan Tandingan

Haufan Hasyim Salengke    •    Selasa, 04 Oct 2016 01:11 WIB
pemberontak houthi
Kelompok Pemberontak Houthi Bentuk Pemerintahan Tandingan
Pemberontak Houthi yang makin menguasai Yaman (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Yaman: Kelompok pemberontak Syiah Houthi di Yaman, Minggu (2/10/2016) waktu setempat, membentuk pemerintahan tandingan dengan menunjuk Abdel-Aziz Saleh Habtour sebagai perdana menteri. 

Perkembangan terbaru itu dipandang berbagai kalangan akan semakin meningkatkan konflik mereka dengan pemerintahan Presiden Abd Rabu Mansour Hadi yang diakui komunitas internasional.

Kantor berita yang dikuasai pemberontak, Saba mengatakan langkah tersebut diputuskan oleh dewan politik tertinggi yang dibentuk pada Juli lalu oleh Houthi dan pasukan yang masih loyal kepada mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.

Houthi yang didukung Iran meminta Habtour untuk membentuk pemerintah ‘penyelamatan nasional’ yang akan berbasis di Ibu Kota Sana’a. Sana’a telah berada di bawah kendali pemberontak Houthi sejak September 2014.

Ben Habtoor adalah mantan gubernur kota pelabuhan selatan Aden dan anggota biro politik pada Partai Kongres Rakyat Umum yang dipimpin Saleh.

Penunjukan Habtour diumumkan hanya selang beberapa jam setelah pertemuan antara Hadi dan Utusan Perdamaian PBB untuk Yaman Ismail Ould Sheikh Ahmed di Riyadh, Arab Saudi, dan ketika kepala operasi kemanusiaan PBB Stephen O'Brien tiba di Sana’a.

Konflik Yaman telah meningkat sejak Maret 2015, ketika pemberontak yang sebagian besar Syiah dan didukung Iran meraih kemajuan di kota selatan Aden tempat Hadi memusatkan pemerintahannya. Hal itu mendorong Saudi dan sesama sekutu Sunni untuk memulai kampanye udara terhadap kelompok pemberontak itu.

Saudi khawatir pemberontak akan memberikan jalan bagi saingan regionalnya, Iran, memperkuat pijakan strategis di Semenanjung Arab.

Pembentukan pemerintahan tandingan kemungkinan akan semakin mempersulit prospek penyelesaian politik di Yaman. PBB mengatakan konflik Yaman telah menewaskan lebih dari 6.600 orang dan membuat tiga juta penduduk negara itu menjadi pengungsi.

Di lain hal, pada Minggu (2/10), koalisi pimpinan Saudi mengatakan pemberontak mengancam pengiriman barang di Selat Bab al-Mandab, setelah terjadi serangan terhadap sebuah kapal Emirat.

Koalisi mengatakan milisi Syiah Houthi telah menyerang kapal yang berlayar di rute biasanya ke dan dari Aden yang tengah mengirim bantuan dan kebutuhan medis dan mengevakuasi warga sipil yang terluka.

"Angkatan udara dan angkatan laut pasukan koalisi menargetkan kapal milisi Houthi yang melakukan penyerangan di dekat Bab al-Mandab ketika pasukan koalisi sedang menyelamatkan penumpang sipil menyusul serangan pada Jumat,” kata koalisi dalam sebuah pernyataan.

"Kejadian ini menunjukkan bahwa Houthi melancarkan taktik teroris terhadap navigasi internasional sipil di Bab al-Mandab," tambah koalisi.
(Des)