Yusuf bin Ahmed Al-Othaimeen, Sosok Sekjen OKI yang Baru

Arpan Rahman    •    Jumat, 18 Nov 2016 16:17 WIB
indonesia-oki
Yusuf bin Ahmed Al-Othaimeen, Sosok Sekjen OKI yang Baru
Yusuf bin Ahmed Al-Othaimeen, Sekjen OKI yang baru terpilih (Foto: Al Arabiya).

Metrotvnews.com, Mekkah: Para menteri luar negeri negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) dengan suara bulat sepakat memilih Yusuf bin Ahmed Al-Othaimeen sebagai Sekretaris Jenderal baru OKI. Pemilihan digelar dalam pertemuan darurat yang diadakan di Mekkah.
 
Arab Saudi mengusulkan namanya menyusul pengunduran diri mendadak Sekjen OKI Iyad Ameen Madani dengan alasan kesehatan. 
 
"Ini adalah kepercayaan besar yang didelegasikan kepada dirinya. Saya berjanji untuk meningkatkan promosi solidaritas di antara negara-negara anggota dan memperkuat aksi Islam bersama, lebih jauh ke depan," ujar Othaimeen, seperti dikutip Al Arabiya, Jumat (18/11/2016).
 
Ketua OKI yang baru terpilih ini pernah menjabat sebagai menteri urusan sosial di Kerajaan Arab Saudi.
 
Dia sebelumnya bekerja sebagai Sekretaris Jenderal Yayasan Pembangunan Perumahan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz; dan Direktur Jenderal dari Komite Amal untuk Perawatan Anak Yatim (Ensan) di Riyadh. 
 
Yusuf bergelar PhD di bidang sosiologi, studi utamanya soal Kesejahteraan Sosial, lulus dari American University di Amerika Serikat. Sebelum itu, ia menyandang gelar Magister Sosiologi dari University of Ohio pada 1982, dan Bachelor of Arts dari University of King Saud dengan penghargaan First Class Honours.
 
Dia juga menjabat anggota dewan Dana Amal Sosial dan Dewan Pengawas dari Pusat Riset Disabilitas Pangeran Salman, selain jabatanya sebagai ketua dari Komite Koordinasi Layanan Disabilitas Pemerintah.
 
Pemilihan Ketua OKI yang baru ini juga dihadiri oleh Menlu RI Retno Marsudi. Selain pemilihan Ketua OKI, pertemuan darurat OKI tersebut turut membahas isu penembakan rudal dari Yaman ke Arab Saudi.
 
 
Pertemuan mengesahkan Resolusi mengenai peluncuran rudal balistik oleh kelompok Houthi. Resolusi tersebut juga telah memuat usulan baru yang digagas Indonesia mengenai perlunya seluruh Negara OKI meningkatkan kesatuan dan solidaritasnya serta memajukan kerja sama yang saling menguntungkan bagi seluruh Negara anggota, sejalan dengan nilai Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Usulan ini merupakan satu satunya usulan baru yang diterima di dalam resolusi tersebut.
 
Dalam pernyataannya, Menlu Retno menyampaikan bahwa setiap hadir pada pertemuan OKI, Indonesia senantiasa menegaskan pentingnya anggota OKI untuk berkontribusi terhadap perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan dan di tingkat global.  Indonesia juga senantiasa menegaskan pentingnya Negara-negara Islam bertindak sejalan dengan Islam yang Rahmatan lil Alamin. 
 
Akan tetapi, Menlu Retno menyampaikan bahwa perkembangan di kawasan Timur Tengah belakangan ini menunjukan sebaliknya, khususnya terkait dengan situasi di Yemen. Negara-negara Islam harus dapat menyelesaikan perbedaannya secara damai.
 
Lebih lanjut mantan Dubes RI untuk Belanda itu menyampaikan bahwa walupun secara geografis Indonesia jauh dari Yaman, namun konflik di Yaman telah berdampak kepada kepentingan Indonesia di kawasan. Hal ini termasuk kepentingan warga Negara Indonesia. 
 
Diplomat karier itu menjelaskan bahwa konflik di Yaman telah mengakibatkan terlukanya satu diplomat Indonesia dan mengharuskan dilakukannya evakuasi ribuan WNI di situasi yang sangat bahaya. Pada dasarnya tegas Menlu Retno, konflik tidak memberikan keuntungan bagi siapapun.



(FJR)