Kuasa Usaha Palestina: Kami Dibelenggu Israel

Sonya Michaella    •    Rabu, 01 Nov 2017 18:28 WIB
palestina merdeka
Kuasa Usaha Palestina: Kami Dibelenggu Israel
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Taher Ibrahim Abdallah Hamad (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kuasa Usaha Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Taher Ibrahim Abdallah Hamad menuturkan bahwa selama ini warga Palestina memang hidup dalam cengkeraman Israel. 
 
Hak-hak dasar warga Palestina seperti mendapatkan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, sampai mengakses lahan yang mereka miliki sendiri dihadang oleh Israel.
 
"Bahkan rumah kami pun tidak ada jaringan listrik karena diputus. Kami dibelenggu. Tapi kami sangat mengapresiasi dukungan penuh dari Indonesia untuk Palestina," kata Hamad dalam International Seminar '50 Years of Israeli’s Occupation on Palestinian Territories' di Universitas Indonesia Salemba, Jakarta, Rabu 1 November 2017.
 
"Jika nanti Palestina benar-benar merdeka, pemerintah kami akan membebaskan visa untuk warga Indonesia yang ingin ke Palestina," lanjut dia lagi.
 
 
Apa yang dituturkan oleh Hamad ini senada dengan apa yang dipaparkan oleh Makarim Wibisono, mantan Pelapor Khusus Situasi Palestina untuk PBB. Makarim bahkan sempat tak diizinkan oleh otoritas Israel untuk memasuki wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hal inilah yang membuatnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai pelapor khusus.
 
Saat itu, Israel menolak visa Makarim karena dianggap dapat memperburuk keadaan. Dalam laporan tersebut, Makarim menyebut Israel harus bertanggung jawab atas pembunuhan lebih dari 1.500 warga Palestina.
 
Sempat meninjau Yordania dan Mesir, di mana negara-negara ini berdekatan dengan Palestina, Makarim menyebutkan ia banyak menemui berbagai kasus yang terjadi.
 
"Sangat banyak kasus yang tidak seharusnya terjadi di sana. Ada penghancuran rumah, lalu ada jenazah yang ditahan tidak boleh dikuburkan. Padahal sesuai aturan hukum Islam, jenazah tidak boleh sampai 24 jam," sebutnya.
 
Makarim juga ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk aktif berpikir mengenai masalah-masalah internasional, terutama konflik Palestina dan Israel.



(FJR)