Korban Tewas Unjuk Rasa di Iran Jadi 12 Orang

Willy Haryono    •    Senin, 01 Jan 2018 20:04 WIB
politik iran
Korban Tewas Unjuk Rasa di Iran Jadi 12 Orang
Foto dari potongan video kantor berita Mehr News memperlihatkan aksi kekerasan dalam demonstrasi di Teheran, Iran, 30 Desember 2017. (Foto: MEHR NEWS)

Teheran: Dua belas orang tewas dalam gelombang kekerasan terburuk sepanjang sejarah demonstrasi massal di Iran, Senin 1 Januari 2018. Merespons hal ini, Presiden Iran menegaskan warga Iran akan melawan "para pengacau dan pelanggar hukum." 

Menurut laporan kantor berita nasional Iran, seperti disitat AFP, enam orang tewas di kota Tuyserkan setelah terdengar beberapa suara tembakan. Seorang pejabat lokal mengatakan dua orang tewas ditembak di kota Izeh. 

Dua lainnya, termasuk seorang remaja laki-laki, tewas ditabrak mobil pemadam kebakaran yang dicuri pengunjuk rasa di kota Dorud. Kematian ini menjadikan total kematian dalam gelombang unjuk rasa di Iran sejak Kamis pekan kemarin menjadi 12. 

Rouhani mencoba menenangkan situasi dengan mengatakan gelombang unjuk rasa ini bukan sesuatu yang luar biasa. 

Baca: Demonstran Serang Balai Kota, Iran Putus Akses Internet

"Kritik dan protes adalah sebuah kesempatan, bukan ancaman. Elemen warga akan merespons dengan sendirinya terhadap para pengacau dan pelanggar aturan," ujar Rouhani dalam pernyataan resmi kantor kepresidenan Iran.

"Negara akan menangani minoritas ini yang menyerukan slogan menentang hukum dan keinginan warga, serta menghina nilai-nilai dari revolusi," lanjut dia. 

Otoritas Iran belum memberikan informasi lanjutan mengenai siapa-siapa saja yang telah membunuh 12 orang sejauh ini. 

Sejumlah video di media sosial memberlihatkan demonstrasi terjadi di kota-kota lain seperti Kermanshah, Khorramabad dan Shahinshahr. 



Sebelumnya, Rouhani mengecam aksi kekerasan dalam gelombang demonstrasi. Namun ia juga menegaskan seluruh jajaran pemerintahan harus bersedia membuka "ruang kritik" bagi masyarakat. 

Awalnya aksi protes hanya menentang dugaan korupsi di pemerintahan dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Namun kecaman meningkat tajam menjadi penentangan secara menyeluruh terhadap rezim. 

"Masyarakat bebas untuk mengekspresikan kritik mereka, atau bahkan protes," kata Rouhani dalam sebuah rapat kabinet.

 


(WIL)