Gadis Saudi dalam Video Rok Mini Ditangkap Usai Protes Publik

Arpan Rahman    •    Rabu, 19 Jul 2017 16:49 WIB
arab saudi
Gadis Saudi dalam Video Rok Mini Ditangkap Usai Protes Publik
Seorang wanita yang menggunakan rok menghebohkan media sosial di Arab Saudi. (Foto: Twitter).

Metrotvnews.com, Dubai: Seorang wanita Saudi telah ditangkap karena menentang peraturan berpakaian ketat kerajaan tersebut. Ia berjalan-jalan dengan rok mini dan atasan terbuka dalam sebuah video yang memicu kemarahan publik.
 
Wanita -- yang namanya tidak disebutkan -- ditahan oleh polisi di ibu kota Riyadh sebab mengenakan pakaian tak pantas yang bertentangan dengan kode pakaian konservatif Islam negara itu. Demikian media pemerintah melaporkan, pada Selasa 18 Juli 2017. 
 
Polisi melimpahkan kasusnya ke jaksa penuntut umum, menurut akun Twitter resmi saluran TV milik negara al-Ekhbariya.
 
 
Dalam video, yang menjadi viral sejak pertama kali muncul di Snapchat selama akhir pekan, wanita tersebut difilmkan berjalan di sekitar benteng bersejarah dengan rok mini tanpa ada orang lain di sekitarnya. Video pendek itu, disyuting di sebuah desa wilayah gurun Najd, di mana banyak suku dan keluarga paling otoriter dari Arab Saudi berasal, diikuti oleh tayangan lain dia duduk di padang pasir.
 
Video tersebut memicu hashtag Twitter yang meminta penangkapannya. Banyak orang mengatakan bahwa dia tidak mematuhi peraturan Saudi, yang mewajibkan semua wanita yang tinggal di kerajaan, termasuk orang asing, agar memakai jubah panjang dan longgar yang dikenal sebagai abaya di depan umum. Kebanyakan wanita Saudi juga mengenakan jilbab dan hijab yang menutupi wajah mereka.
 
Media sosial sangat populer di Arab Saudi sebagai ruang melampiaskan frustrasi dan mengukur opini publik. Teriakan menentang video dan penangkapan wanita itu selanjutnya mengungkapkan betapa kuat dan luasnya pandangan konservatif di kerajaan tersebut. Meski baru-baru Arab Saudi memodernisasi dan melonggarkan beberapa peraturan.
 
Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah mendorong celah yang lebih besar bagi hiburan demi menenangkan pemuda, yang aktif di media sosial dan dapat menerabas sensor pemerintah secara daring. Lebih dari separuh penduduk Saudi berusia di bawah 25 tahun.
 
Pemerintah mengumumkan, pekan lalu, bahwa anak perempuan akan diizinkan untuk pertama kalinya berolahraga di sekolah umum dan memiliki akses ke kelas pendidikan jasmani. Kekuasaan polisi agama kerajaan juga telah dibatasi, dan mereka secara resmi tidak lagi diizinkan menangkap orang.
 
Meskipun muncul gerakan ini, peraturan segregasi gender yang ketat dan pembatasan lainnya terhadap perempuan tetap ada. Wanita tidak boleh mengemudi di Arab Saudi dan tidak bisa memperoleh paspor atau bepergian ke luar negeri tanpa izin seorang saudara laki-laki.
 
Setelah video wanita itu muncul, beberapa orang Saudi menyatakan kekhawatirannya. Mengatakan bahwa Twitter digunakan sebagai alat untuk menyerang warga lain.
 
"Saya hanya mempertanyakan kurangnya prioritas mengenai kemarahan dan tanda bahaya yang diungkapkan mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan penindasan versus pilihan pribadi orang lain yang tidak berbahaya," penulis Saudi Waheed al-Ghamdi mencuit di Twitter seperti dinukil USA Today, Rabu 19 Juli 2017.
 
Beberapa dari mereka yang membelanya memposting gambar kunjungan Presiden Donald Trump ke Arab Saudi pada Mei, ditampakkan Ibu Negara Melania Trump dan putrinya Ivanka -- meskipun berpakaian sopan dengan garis leher dan lengan yang lebih tinggi -- tidak mengerudungi kepala mereka atau memakai kain abaya.
 
Seorang pengguna Twitter, yang postingannya dibagikan lebih dari 1.700 kali, menumpangkan gambar wajah Ivanka ke tubuh gadis muda Saudi, dengan tulisan: "Sudah cukup, masalahnya telah terpecahkan."
 
Citra wanita itu dikaburkan di situs berita Saudi yang melaporkan kasus ini. Sudah umum di Arab Saudi terlihat gambar wajah wanita yang sangat buram dan terpapar pada papan reklame dan etalase -- sangat kontras dengan banyak gambar menjulang tinggi dari bangsawan pria senior yang tampil di seantero negeri.



(FJR)