AS Tak Biasanya Menyerang Balik Usai Serbuan Deir al-Zour

Arpan Rahman    •    Jumat, 09 Feb 2018 14:04 WIB
krisis suriahpemerintahan as
AS Tak Biasanya Menyerang Balik Usai Serbuan Deir al-Zour
Kehancuran di Suriah akibat perang yang terjadi (Foto: AFP).

Deir al-Zour: Amerika Serikat (AS) telah meluncurkan serangan udara yang jarang terjadi di Suriah timur. Tujuannya untuk menggagalkan serbuan terhadap pemberontak yang didukung AS oleh pasukan yang menyokong pemerintah Suriah.
 
 
"Lebih dari 100 pejuang pro-pemerintah tewas," kata pejabat militer AS, seperti dilansir BBC, Kamis 8 Feburari 2018.
 
Sekitar 500 pejuang sudah mencoba merebut wilayah yang diambil dari kelompok Islamic State (ISIS) oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS.
 
SDF dan pasukan pemerintah mengendalikan daerah di kedua sisi Sungai Efrat di Deir al-Zour.
 
Beberapa pasukan AS bertempur bersama SDF, namun mereka tidak mengalami korban jiwa. Seorang tentara SDF terluka, kata pejabat AS.
 
Pasukan pro-pemerintah telah didukung oleh artileri, tank, dan persenjataan berat lainnya saat mereka menyerang sebuah markas SDF "delapan kilometer di sebelah timur jalur tepi Sungai Efrat yang disepakati," kata pejabat AS.
 
Pasukan SDF membalas dengan artileri dan meminta serangan udara AS. AS bersikeras bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan yang defensif dan para penyerang tidak dikejar begitu mereka tersingkir.
 
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa pasukan pro-pemerintah mungkin telah berusaha untuk merebut ladang minyak Khusham.
 
Pejuang ISIS masih mengendalikan beberapa kantong di wilayah tersebut. SDF menghadapi mereka di sebelah timur Sungai Efrat, sementara pasukan pro-pemerintah menguasai daerah sekitar kota Deir al-Zour di tepi barat.
 
ISIS menguasai sebagian besar Deir al-Zour sejak 2014. Kawasan ini sangat penting karena dekat perbatasan dengan Irak di mana ISIS juga aktif.
 
Tapi mereka kehilangan kubu terakhir yang tersisa di Suriah, pada November. ISIS juga telah tersingkir dari sekitar 95 persen wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak.



(FJR)