Konflik Timur Tengah Paksa Isu Palestina Tersisihkan

Fajar Nugraha    •    Jumat, 24 Nov 2017 09:58 WIB
palestina
Konflik Timur Tengah Paksa Isu Palestina Tersisihkan
Isu Palestina tertutup akibat konflik di Timur Tengah (Foto: AFP).

Bandung: Berbagai konflik menimpa wilayah Timur Tengah saat ini. Akibatnya, isu Palestina yang sudah 50 tahun belum terselesaikan menjadi tersisihkan.
 
"Akibat konflik Timur Tengah belakangan ini, isu Palestina menjadi termarginalisasi. Hal itu merugikan Palestina dan sangat menguntungkan bagi Israel. Ini yang harus kita benahi," ujar Direktur Timur Tengah Kemenlu RI Nurul Aulia, dalam seminar 'Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah' di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis 23 November 2017.
 
"Kita harus kembalikan sentralitas isu Palestina dalam agenda internasional. Palestina ada dalam napas Polugri RI," tegas pria yang pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Yaman itu, seperti sitat dari situ Kemenlu RI.
 
Di hadapan lebih dari 450 audiens yang didominasi mahasiswa dan dosen dari berbagai jurusan dan fakultas, Nurul Aulia mengutarakan, energi dunia Arab akhir-akhir ini justru dihabiskan untuk konflik di antara negara-negara Arab sendiri. Dengan demikian, di sisi lain Israel memiliki ruang strategis untuk melanjutkan agenda pendudukannya, meski bertentangan dengan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB.
 
Untuk menyikapi hal itu, Pemerintah Indonesia berupaya mendekati negara-negara Arab dan mendorong mereka untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan cara-cara damai dan tanpa kekerasan. 
 
Pemerintah Indonesia juga terus-menerus menjaga agar isu Palestina tetap berada di posisi teratas prioritas penyelesaian masalah di Timur Tengah. Hampir dalam setiap pertemuan dengan para counterpart-nya, khususnya pemimpin negara-negara Arab dan Islam, baik Presiden RI maupun Menteri Luar Negeri RI selalu mengangkat isu Palestina untuk dibahas.
 
Indonesia juga terus-menerus memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Di antaranya pemberian program pembangunan kapasitas untuk 1.811 PNS, polisi, dan warga Palestina. Ada pula hibah pusat perawatan jantung untuk Rumah Sakit Al Shifa di Gaza senilai Rp20 miliar dan pendirian Rumah Sakit Indonesia di Gaza hasil inisiatif LSM MER-C.
 
Duta Besar Nurul Aulia juga menggarisbawahi prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah. Prinsip-prinsip tersebut antara lain kebijakan bebas aktif yang diabdikan bagi kepentingan nasional, bersahabat dengan semua bangsa dan negara atas dasar saling menghargai dan menghormati, mendukung penyelesaian konflik melalui cara-cara damai dan dialog inklusif, serta berkontribusi dalam memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional guna mewujudkan perdamaian dan keamanan di kawasan.
 
Selain di bidang politik, Indonesia juga mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dengan Timur Tengah yang diarahkan untuk memperluas pasar produk ekspor Indonesia. Diplomasi Indonesia juga diarahkan untuk menarik investasi dari Timur Tengah, memanfaatkan pasar proyek infrastruktur dan tenaga kerja profesional di Timur Tengah serta mendorong BUMN dan swasta Indonesia untuk memanfaatkan peluang investasi di Timur Tengah termasuk di negara-negara Afrika Utara.
 
Dalam seminar yang dibuka Rektor Unisba Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. tersebut, juga dihadirkan dua narasumber lainnya yaitu Duta Besar Deddy Saiful Hadi, Duta Besar RI untuk Qatar periode 2012-2016 yang memaparkan pengalaman peningkatan hubungan RI-Qatar dan potret peran strategis Qatar dalam konstelasi politik Timur Tengah khususnya periode 2012-2016. Adapun narasumber ketiga, Dr. M Husni Syam, S.H., LL.M, Ketua Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Unisba menjelaskan aspek-aspek hukum internasional hubungan RI-Timur Tengah.  



(FJR)