OKI Keluarkan Resolusi Terkait Tembakan Rudal Houthi ke Arab Saudi

Fajar Nugraha    •    Kamis, 17 Nov 2016 20:39 WIB
indonesia-oki
OKI Keluarkan Resolusi Terkait Tembakan Rudal Houthi ke Arab Saudi
Menlu Retno Marsudi hadiri pertemuan darurat OKI (Foto: Dok. Kemenlu RI).

Metrotvnews.com, Mekkah: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menghadiri pertemuan darurat Organisasi Kerja sama Islam (OKI). Pertemuan mengeluarkan resolusi terkait tembakan rudal dari Yaman ke Arab Saudi.
 
"Negara-negara anggota OKI perlu perkuat komitmen untuk tingkatkan kerja sama dan solidaritas dalam menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas, dan kesejehateraan di dunia Islam," demikian ditegaskan Menlu RI dalam pertemuan darurat Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri OKI, di kota Mekkah Al-Mukarramah, Arab Saudi, 17 November 2016. 
 
Pertemuan yang membahas serangan rudal balistik ke Arab Saudi dan penggantian Sekjen OKI, di pimpin oleh Uzbekistan sebagai ketua Council of Foreign Ministers OIC.
 
 
Dalam pernyataannya, Menlu Retno menyampaikan bahwa setiap hadir pada pertemuan OKI, Indonesia senantiasa menegaskan pentingnya anggota OKI untuk berkontribusi terhadap perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan dan di tingkat global.  Indonesia juga senantiasa menegaskan pentingnya Negara-negara Islam bertindak sejalan dengan Islam yang Rahmatan lil Alamin. 
 
Akan tetapi, Menlu RI menyampaikan bahwa perkembangan di kawasan Timur Tengah belakangan ini menunjukan sebaliknya, khususnya terkait dengan situasi di Yemen. "negara-negara Islam harus dapat menyelesaikan perbedaannya secara damai," ungkap Menlu Retno, dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI yang diterima Metrotvnews.com, Kamis (17/11/2016).
 
Lebih lanjut mantan Dubes RI untuk Belanda itu menyampaikan bahwa walupun secara geografis Indonesia jauh dari Yaman, namun konflik di Yaman telah berdampak kepada kepentingan Indonesia di kawasan. Hal ini termasuk kepentingan warga Negara Indonesia. 
 
Diplomat karier itu menjelaskan bahwa konflik di Yaman telah mengakibatkan terlukanya satu diplomat Indonesia dan mengharuskan dilakukannya evakuasi ribuan WNI di situasi yang sangat bahaya. Pada dasarnya tegas Menlu Retno, konflik tidak memberikan keuntungan bagi siapapun.
 
"Konflik hanya akan membawa penderitaan dan masalah kemanusiaan bagi rakyat, dan juga akan menghambat pembangunan," tuturnya.
 
Dalam kaitan ini Menlu RI meyampaikan bahwa Indonesia terus mendorong penyelesaian politis yang inklusif dan damai terhadap konflik di Yemen seperti yang pernah diupayakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Kerja sama Teluk (GCC). 
 
"untuk itu langkah pertama yang perlu segera diambil adalah memberhentikan kekerasan terhadap masyarakat sipil di Yaman," tegas Menlu Retno.
 
Menlu pun mengecam keras tindakan peluncuran balistik ke wilayah Arab Saudi yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Arab Saudi. Lebih lanjut Menlu menyampaikan bahwa tempat suci agama manapun, termasuk Mekkah, harus selalu selalu dihormati dan harus selalu kita lindungi bersama. 
 
"Indonesia mengecam dan tidak dapat mentoleransi semua aksi atau serangan terhadap tempat suci agama manapun," tegas Menlu Rento.
 
Dari berbagai perkembangan tersebut, Menlu Retno juga menyampaikan bahwa pembentukan OIC Contact Group on Peace and Conflict Resolution (OIC-PCR) yang digagas oleh Indonesia menjadi sangat relevan dalam upaya mewujudkan perdamaian di dunia Islam.
 
Pertemuan mengesahkan Resolusi mengenai peluncuran rudal balistik oleh kelompok Houthi. Resolusi tersebut juga telah memuat usulan baru yang digagas Indonesia mengenai perlunya seluruh Negara OKI meningkatkan kesatuan dan solidaritasnya serta memajukan kerja sama yang saling menguntungkan bagi seluruh Negara anggota, sejalan dengan nilai Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Usulan ini merupakan satu satunya usulan baru yang diterima di dalam resolusi tersebut.
 
Pertemuan ini juga telah menetapkan Yousef bin Ahmad Al-Othaimeen sebagai Sekretaris Jenderal OKI yang baru menggantikan Sekjen OKI yang sebelumnya, Iyad Ameen Madani.
 
Pada 27 Oktober lalu sebuah rudal ditembakkan dari Provinsi Saada Provinsi Saada, barat laut Yaman yang berbatasan dengan Kerajaan Arab Saudi, tanpa menimbulkan kerusakan. Arab Saudi mengaku telah "mencegat dan menghancurkan" rudal yang berjarak 65 kilometer dari Mekkah.
 
 
Juru Bicara Kemenlu RI Arrmanatha Nasir pada Selasa 15 November mengatakan, terkait serangan rudal ini, Pemerintah Indonesia menekankan bahwa setiap serangan ke arah suatu negara dari pihak lain adalah sebuah pelanggaran. 



(FJR)