Utusan PBB di Yaman Bicarakan Krisis Hodeida

Arpan Rahman    •    Minggu, 17 Jun 2018 18:15 WIB
pbbyaman
Utusan PBB di Yaman Bicarakan Krisis Hodeida
Utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths. (Foto: AFP)

Sanaa: Utusan PBB untuk Yaman berada di ibukota yang dikuasai pemberontak, Sanaa, untuk hari kedua, Minggu 17 Juni. Ia mengadakan pembicaraan darurat atas pelabuhan bantuan penting di Hodeida, di mana koalisi regional sedang memerangi pemberontak Huthi.

Martin Griffiths diyakini mendorong kesepakatan bagi para pemimpin pemberontak agar menyerahkan kendali pelabuhan Laut Merah kepada komite yang disupervisi PBB dan menghentikan bentrokan ketat atas pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Utusan itu tidak membuat pernyataan apapun soal kedatangannya di bandara internasional Sanaa, Sabtu 16 Juni.

Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA Anwar Gargash di Twitter mendukung "upaya utusan untuk memfasilitasi penyerahan yang aman dari Hodeida kepada Pemerintah Yaman yang sah".

"Rakyat Hodeida sangat ingin dibebaskan. Koalisi akan melanjutkan persiapan militer dan kemanusiaan untuk mencapai hasil yang mendesak ini," tulis Gargash, seperti dikutip AFP, Minggu 17 Juni 2018.

Lebih dari 70 persen impor Yaman melewati dermaga Hodeida dan pertempuran sudah meningkatkan kecemasan PBB akan bencana kemanusiaan di negara yang sudah berada di ambang kelaparan.

Pemerintah Yaman dan sekutu-sekutunya melancarkan serangan, Rabu, sejak itu sedikitnya 139 pejuang tewas, menurut sumber medis dan militer.

Pemberontak Syiah Huthi menguasai wilayah Hodeida dengan penduduknya sekitar 600.000 jiwa sejak 2014.

Awal tahun ini, koalisi yang dipimpin Saudi memberlakukan blokade hampir total di pelabuhan kota itu. Seraya menyatakan bahwa lokasi tersebut digunakan sebagai saluran bagi penyelundupan senjata kepada para pemberontak oleh musuh bebuyutannya Iran.

Pendudukan Hodeida akan menjadi kemenangan terbesar koalisi dalam perang sejauh ini. Pemimpin pemberontak Abdel Malek al-Huthi, pada Kamis, menyerukan pasukannya menggencarkan perlawanan sengit dan mengubah wilayah itu menjadi neraka bagi pasukan koalisi.

Tentara Yaman, pada Sabtu, mengklaim telah menguasai pangkalan pemberontak di bandara Hodeida, yang ditutup sejak 2014. Namun sumber militer kemudian membantah bahwa tentara sudah memasuki bandara. Mereka mengatakan kepada AFP, bahwa bentrokan sporadis sedang berlangsung di gerbang selatan bandara.

Perang Yaman telah menewaskan sekitar 10.000 jiwa sejak koalisi campur tangan pada 2015 ketika Presiden Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke pengasingan di Arab Saudi ketika para pemberontak menyerbu banyak wilayah negara.

Lebih dari 22 juta warga Yaman membutuhkan bantuan, termasuk 8,4 juta orang yang menghadapi risiko kelaparan, menurut PBB, yang menggambarkan konflik itu sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.



(FJR)