Krisis Qatar, Arab Saudi Murka Setelah Telepon Emir

Arpan Rahman    •    Sabtu, 09 Sep 2017 18:05 WIB
kisruh qatar
Krisis Qatar, Arab Saudi Murka Setelah Telepon Emir
Negara-negara besar di Teluk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Riyadh: Arab Saudi mengatakan telah menghentikan dialog dengan Qatar, tak lama setelah sambungan telepon antara pemimpin Qatar dan putra mahkota Arab Saudi.

(Baca: Raja Arab Saudi Perintahkan Buka Perbatasan Qatar bagi Jemaah Haji).
 
Kedua belah pihak semula membahas diadakannya pembicaraan untuk menyelesaikan krisis Qatar, yang telah membuat Doha terputus hubungan diplomatik dari Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab.
 
Namun, Arab Saudi kemudian menuduh Qatar mendistorsi fakta tentang seruan tersebut. Seraya mengatakan bahwa pihaknya akan mengakhiri pembicaraan.
 
Dilansir BBC, Sabtu 9 September 2017, keempat negara mengatakan Qatar mendukung terorisme -- sesuatu yang dibantah Doha.
 
Pertentangan tersebut menyebabkan keempat negara Arab itu membekukan hubungan dengan Qatar pada 5 Juni -- Arab Saudi menutup perbatasan darat dengan Qatar, sementara keempat negara memutus hubungan udara dan laut dengan negara tersebut.
 
Panggilan telepon Jumat terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara secara terpisah dengan kedua belah pihak. Pada awalnya dering telepon dipandang sebagai terobosan yang mungkin terjadi dalam krisis tersebut.
 
Seruan tersebut merupakan kontak formal pertama antara Riyadh dan Doha sejak krisis dimulai.
 
Media pemerintah di kedua belah pihak melaporkan bahwa Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah mendiskusikan perlunya dialog untuk menyelesaikan krisis tersebut.
 
Siapa berkata apa?
 
Saudi Press Agency mengatakan bahwa pemimpin Qatar telah "menyatakan keinginannya untuk duduk di meja dialog dan membahas tuntutan keempat negara". Rincian lebih lanjut akan diumumkan setelah Arab Saudi mencapai kesepakatan dengan Bahrain, Mesir, dan UEA.
 
Sementara itu, Qatar News Agency melaporkan bahwa putra mahkota Saudi telah mengusulkan untuk menetapkan "dua utusan demi menyelesaikan masalah kontroversial dengan cara yang tidak mempengaruhi kedaulatan negara".
 
Tak lama kemudian, Arab Saudi menuduh Qatar tidak "serius" mengenai dialog. Akhirnya mengatakan bahwa komunikasi antara kedua belah pihak akan ditangguhkan.
 
Perselisihan tersebut tampaknya melampaui protokol -- para pengamat mengatakan Arab Saudi marah karena media negara Qatar tidak menjelaskan bahwa seruan tersebut diprakarsai oleh Doha.

 


 


(FJR)