Protes Merebak saat Rouhani Peringatkan Perang Ekonomi Iran-AS

Arpan Rahman    •    Rabu, 27 Jun 2018 20:07 WIB
iran
Protes Merebak saat Rouhani Peringatkan Perang Ekonomi Iran-AS
Protes kondisi ekonomi yang berlangsung di Iran (Foto: AFP).

Teheran: Para pengunjuk rasa di Iran memasuki hari ketiga demonstrasi mereka lantaran ekonomi negara itu goyah ketika Presiden Hassan Rouhani mengklaim bahwa mereka menghadapi 'perang ekonomi' dengan Amerika Serikat (AS).
 
Sejumlah tayangan video menunjukkan demonstran menghadapi polisi di ibu kota, Teheran, ketika mata uang Rial Iran jatuh ke 90.000 dolar -- berganda dari nilai tukar pemerintah 42.000 Rial menjadi USD1.
 
Orang-orang di negara Timur Tengah itu telah melihat tabungan mereka berkurang. Para pedagang menawarkan barang-barang, namun tidak yakin akan nilai barang itu yang sebenarnya.
 
Berbagai ketidakpastian berasal dari keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.
 
Demonstrasi itu tampaknya sedikit berkurang pada Selasa 26 Juni setelah para pengunjuk rasa memaksa Bazaar Teheran untuk ditutup sementara sehari sebelumnya.
 
Pada Ahad, para pemrotes memaksa dua pusat perbelanjaan besar tutup. Beberapa saksi menggambarkan kehadiran polisi antihuru-hara di Teheran pada Selasa, sesuatu yang hampir tidak disebutkan oleh media yang dikendalikan negara Iran.
 
Jaksa Abbas Jafari Doletabadi mengatakan "provokator utama" dari protes Senin ditangkap, tetapi tidak mengatakan berapa banyak.
 
Masih belum jelas siapa yang memimpin protes, tetapi analis mengatakan kelompok garis keras yang ingin menantang Rouhani kemungkinan besar menyulut demonstrasi serupa Desember lalu dan Januari.
 
Setidaknya 25 orang tewas dan hampir 5.000 ditangkap dalam demonstrasi terbesar di Iran sejak berbulan-bulan protes menyusul pemilihan presiden 2009 yang disengketakan.
 
Pada Selasa pagi, Rouhani bertemu dengan hakim, termasuk kepala pengadilan dan parlemen Iran, di mana dia menyerang kaum garis keras melawan Amerika, meskipun relatif moderat dalam pemerintahan teokratis Iran.
 
"Kita berjuang melawan Amerika Serikat, itu dengan membuat perang ekonomi," kata presiden.
 
"AS tidak dapat mengalahkan bangsa kita. Musuh-musuh kita tidak dapat memaksa kita untuk berlutut," cetusnya, seperti disitir Sky News, Rabu 27 Juni 2018.
 
Ketua parlemen Ali Larijani, yang berbicara pada acara yang sama, tampak mengkritik pemerintah.
 
"Pemerintah belum cukup untuk menghadapi masalah ekonomi," katanya, menurut kantor berita semi-resmi ISNA.


(FJR)