Rusia, Iran dan Turki Bertemu Bahas Situasi di Idlib

Fajar Nugraha    •    Jumat, 07 Sep 2018 19:29 WIB
krisis suriah
Rusia, Iran dan Turki Bertemu Bahas Situasi di Idlib
Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Iran (Foto: AFP).

Teheran: Pemimpin dari tiga negara melakukan pertemuan untuk membahas situasi yang tengah terjadi di Idlib, Suriah. Rusia bersama dengan Suriah, melakukan penyerangan di Idlib yang mereka sebut disasarkan kepada teroris.
 
Baca juga: Jet Tempur Rusia Gempur Idlib, Dua Orang Tewas.
 
Pertemuan ini dilakukan di Teheran, Iran pada Jumat 7 September. Ketiga pemimpin akan menentukan masa depan Provinsi Idlib di tengah meningkatnya kekhawatiran akan bencana kemanusiaan di benteng pemberontak Suriah yang terakhir.
 
"Tak lama setelah tiba di Iran, pemimpin Rusia Vladimir Putin dan rekannya dari Turki, Recep Tayyip Erodgan duduk untuk pertemuan puncak dengan Presiden Iran Hassan Rouhani," kata seorang fotografer AFP, Jumat 9 September 2018.
 
Mereka melakukan pertemuan pusat konferensi di utara ibu kota Iran, di saat serangan Pemerintah Suriah terhadap kubu oposisi akan terjadi dalam waktu dekat.
 
Ketiga negara itu adalah penjamin dari proses Astana. Proses ini jalur negosiasi yang diluncurkan setelah intervensi militer Rusia yang mengubah situasi sejak tahun 2015. Proses itu telah melampaui negosiasi Jenewa yang didukung Barat yang dipimpin oleh PBB.
 
Dukungan Iran dan Rusia untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menopang Damaskus. Kondisi tersebutmemungkinkannya untuk mendapatkan kembalikekuasan perang saudara yang sudah berjalan tujuh tahun. Sejak 2011, perang tersebut telah mengklaim sekitar 350.000 jiwa.
 
Di antara mereka adalah, Rusia melancarkan serangan udara menggempur posisi pemberontak di barat daya Provinsi Idlib. Serangan itu diarahkan kepada aliansi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), serta kelompok garis keras Ahrar al-Sham.
 
Sementara ratusan warga sipil telah mulai melarikan diri dari Idlib saat pasukan pemerintah dan sekutu mereka siap melancarkan pertempuran besar terakhir dan paling berdarah dari konflik yang menghancurkan itu.


(FJR)