AS Tuduh Rusia Jatuhkan Bom ke Konvoi Kemanusiaan PBB

Arpan Rahman    •    Rabu, 21 Sep 2016 10:33 WIB
krisis suriah
AS Tuduh Rusia Jatuhkan Bom ke Konvoi Kemanusiaan PBB
Truk konvoi bantuan kemanusiaan yang diserang (Foto: AFP)

Metrotvnes.com, New York: Para pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) kini yakin bahwa pesawat-pesawat Rusia menjatuhkan bom yang menghancurkan sebuah konvoi bantuan PBB menewaskan sedikitnya 20 pekerja kemanusiaan.
 
Klaim keterlibatan langsung Rusia dalam pemboman itu, jika dikonfirmasi, akan memiliki konsekuensi lebih jauh. Sebelumnya pada Selasa 20 September, Ban Ki-moon dalam pidato perpisahannya di hadapan sidang umum PBB mengecam hal itu sebagai  "Memuakkan, biadab, dan serangan yang tampaknya disengaja". Ban Ki-moon menggambarkan pembom "para pengecut" dan pejabat PBB mengatakan itu kejahatan perang yang potensial.
 
"PBB telah dipaksa untuk menghentikan konvoi bantuan di Suriah karena serangan hari Senin terhadap truk Bulan Sabit Merah yang membawa pasokan pangan PBB untuk daerah pedesaan barat dari kota Aleppo," ujar Ban kepada Guardian, pada 20 September.


Truk konvoi yang diserang (Foto: AFP)

 
Korban serangan termasuk direktur lokal Bulan Sabit Merah Suriah, Omar Barakat. Ban memuji para pekerja kemanusiaan yang tewas sebagai pahlawan dan mengatakan "orang-orang yang mengebom mereka adalah pengecut" sebelum meminta pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan dalam perang. 
 
"Anda berpikir tidak bisa lebih buruk lagi, selain kebejatan merosot lebih rendah," tegas Ban dengan penuh amarah.
 
Para petugas bantuan mengatakan, konvoi diserang dari udara sementara makanan dan obat-obatan sedang diturunkan di sebuah gudang di Urem yang dikuasai pihak oposisi al-Kubra.
 
Kantor berita Reuters 21 September, mengutip dua pejabat AS yang mengatakan, dua pesawat tempur Sukhoi SU-24 Rusia berada di langit di atas konvoi bantuan pada saat kejadian itu.
 
Kebencian dan Kemarahan
 
Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS mengatakan tidak bisa mengkonfirmasi tuduhan itu, sementara Kementerian Luar Negeri Rusia membantah bahwa mereka hanya menyebarkan kebencian dan kemarahan.
 
Sebelumnya, para pejabat AS telah menyebutkan bahwa mereka akan terus meminta Moskow bertanggung jawab atas serangan itu. Kalaupun itu dilakukan oleh pesawat milik Suriah, Rusia telah mengambil tanggung jawab untuk mematuhi gencatan senjata sebagai bagian dari perjanjian 9 September.
 
Namun Moskow tidak mengakui bahwa konvoi itu terkena serangan udara. Sebaliknya mengklaim bahwa 18 truk telah terbakar. Dalam pernyataan terpisah pada Selasa, kementerian pertahanan negara itu menyatakan bahwa konvoi bantuan dibuntuti truk pikap militan yang dipersenjatai mortir berat, kantor berita Rusia, Tass melaporkan.
 
Para pejabat AS beralasan tidak ada keraguan konvoi itu dihancurkan serangan udara dan bahwa pasukan koalisi Barat tidak memiliki peran di dalamnya.
 
"Hanya ada tiga pihak yang terbang di Suriah: koalisi, Rusia, dan rezim Suriah. Itu bukan koalisi. Kami tidak terbang di atas Aleppo. Kami tidak punya alasan untuk itu. Kami hanya menyerang ISIS, dan ISIS tidak ada. Kami akan menyerahkan kepada Rusia dan rezim Suriah untuk menjelaskan tindakan mereka," ungkap juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Menlu Rusia Sergey Lavrov mengakui bahwa militer Rusia telah memantau konvoi, melalui drone pengawas telah ditayangkan langsung di situs kementerian pertahanan. Tapi dia mengklaim Rusia telah "kehilangan jejak konvoi itu ketika memasuki wilayah pemberontak". Moskow telah melancarkan penyelidikan, Lavrov mengatakan itu kepada para menteri luar negeri lainnya.
 
Kemudian pada Selasa, Kementerian Luar Negeri Rusia mencela tuduhan terhadap Moskow dan Damaskus.
 
"Kami sedang mempertimbangkan, dengan kebencian dan kemarahan, berbagai upaya oleh beberapa pengamat asing dari gerombolan pemberontak dan teroris di Suriah untuk menyalahkan (kami) atas insiden serangan udara Rusia dan Suriah yang diduga membombardir konvoi bantuan," kata pernyataan itu, menurut kantor berita Tass.
 
Gencatan senjata belum berakhir
 
Meskipun marah karena serangan tersebut, dan melanjutkan pengeboman ke daerah yang dikuasai pemberontak di Aleppo, AS dan Rusia telah menolak untuk menyatakan gencatan senjata di Suriah berakhir.
 
Pertemuan Lavrov dengan Menlu AS adalah yang pertama sejak militer Suriah menyatakan tidak lagi terikat pada gencatan senjata yang dinegosiasikan dua politisi itu. Militer Suriah kembali melancarkan serbuan udara terhadap Aleppo timur dan wilayah yang dikuasai pemberontak lainnya, pada Senin.
 
Lavrov dan Kerry berbicara di sebuah hotel di pusat kota New York selama sekitar setengah jam pada Selasa pagi sebelum berdiskusi mendalam dengan menteri luar negeri lainnya dari dewan keamanan, Eropa, dan Timur Tengah yang bergabung dalam Suriah Internasional Support Group (ISSG). Kerry keluar dari pertemuan tersebut, bersikeras: "Gencatan senjata tidak berakhir."
 
"Kami akan terus bekerja. Kami akan bertemu lagi Jumat membahas beberapa langkah spesifik," pungkas Kerry.
 
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson, mengatakan: "Terus terang, kerjaan Kerry-Lavrov adalah satu-satunya acara di kota ini dan kami harus dapat mengembalikannya ke jalan yang benar."
 
PBB kemudian menarik kembali klaim bahwa konvoi sudah jadi sasaran serangan udara. "Kami tidak dalam posisi untuk menentukan apakah ini pada kenyataannya serangan udara. Kami berada dalam posisi untuk mengatakan bahwa konvoi diserang," kata juru bicara kemanusiaan, Jens Laerke.

 

 



(FJR)