Jika Aleppo Jatuh, Tak Berarti Perang Suriah Berakhir

Arpan Rahman    •    Kamis, 06 Oct 2016 13:58 WIB
krisis suriah
Jika Aleppo Jatuh, Tak Berarti Perang Suriah Berakhir
Suriah dalam kondisi hancur akibat perang (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Aleppo: Kota Aleppo di Suriah diklaim akan segera jatuh ke tangan pasukan Pemerintah Suriah yang didukung kekuatan udara Rusia. Kejatuhan itu ditandai pengeboman paling mematikan selama hampir enam tahun perang saudara.
 
Merebut kota strategis penting, pusat ekonomi dan perdagangan yang jadi kunci untuk mengendalikan Laut Suriah, merupakan kemenangan militer penting bagi Presiden Bashar al-Assad serta sekutunya, Rusia dan Iran.
 
Terjadi kemunduran yang melemahkan bagi pemberontak Suriah didukung Barat. Tanpa bala bantuan cepat dari sekutu asing mereka, kubu pemberontak tak berdaya menjadi sasaran pengeboman.
 
"Tapi jatuhnya Aleppo tidak berarti mengakhiri perang," menurut kalangan analis militer dan politik seperti dilansir Reuters, Rabu (5/10/2016).
 
Sebaliknya kekalahan itu akan memberi jalan untuk jangka panjang kepada gerilyawan Sunni dalam kelompok pemberontak moderat tersisa, yang didukung oleh Barat dan sekutu regional Barat, mengobarkan jihad militan.
 
Dalam perang, dengan begitu banyak aktor global dan regional mendukung klien lokal, Presiden Bashir al-Assad akan bertahan sebagai pemimpin sebuah negara yang terpuruk, hancur, dan terpecah-belah dalam krisis pengungsi terburuk di dunia sejak Perang Dunia II.
 
"Rusia mengulang di Aleppo dan Suriah apa yang telah mereka lakukan di Grozny, itu sama," ucap Duta Besar AS untuk Suriah periode 2011-2014, Robert Ford, mengacu pada pengeboman sengit yang menghancurkan ibukota Chechnya wilayah Rusia selama perang 1999-2000 antara Moskow melawan separatis Islam di sana.
 
"Pihak oposisi Assad akan menyingkir dari wilayah pendudukan untuk berpencar menjadi pemberontak, mengobarkan perang gerilya, yang akan berlangsung terus dan lama," katanya kepada Reuters


Kehancuran Suriah akibat perang (Foto: AFP)
 
 
Perang Suriah dimulai pada 2011 setelah pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan lebih dari empat dekade klan Assad, yang terinspirasi revolusi Arab Spring di dunia Arab.
 
Pertempuran, antara pemberontak yang sebagian besar mayoritas Sunni Suriah menghadapi kekuasaan minoritas yang berakar di komunitas Alawite asal Assad, telah menewaskan lebih dari 300.000 jiwa. Setengah populasi mengungsi dan banyak perkotaan Suriah berubah menjadi gurun.
 
Ada saat-saat di masa konflik sempat terlihat sepertinya Assad akan terguling. Rusia mengirim angkatan udara untuk membantu milisi pemerintah yang didukung Iran tahun lalu. Ketika itu, Moskow dan Teheran dikhawatirkan Assad sudah mau mengalah terhadap serangan pemberontak.
 
Pengeboman Aleppo timur dilancarkan kekuatan pro-Assad di medan perang dipelopori oleh para pejuang berpengalaman Iran yang didukung Hizbullah Libanon dan Pengawal Revolusi Iran. Serangan bertujuan untuk memberi pukulan yang menentukan terhadap pemberontak.
 
Assad diuntungkan teman dan lawan
 
Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin ulama Iran tidak goyah mendukung Assad. Tapi pendukung pemberontak,-mulai dari Amerika Serikat, Turki, dan negara-negara Teluk- merasa khawatir Islamic State (ISIS) akan mengisi kekuasan jika Assad terguling.
 
"Aleppo bukan titik balik, belum," kata Ford, yang kini menjadi pejabat senior Middle East Institute di Washington, seraya mengkritik Presiden AS Barack Obama karena gagal  mempersenjatai pemberontak utama.
 
"Ini menunjukkan bahwa rezim (Assad) menang perang sekarang tapi tidak akan ada akhir untuk perang ini karena oposisi akan terus berjuang. Aleppo akan jatuh tapi mungkin tidak cepat, mungkin diperlukan satu tahun tetapi akan jatuh," pungkasnya.
 
Rolf Holmboe, mantan duta besar Denmark untuk Lebanon, Suriah, dan Yordania yang sekarang menjadi peneliti di Canadian Global Affairs Institute, mengatakan jatuhnya Aleppo akan sangat berpengaruh bagi para pemberontak, yang telah menggunakannya sebagai gerbang utama di seluruh perang.
 
"Para pemberontak akan terisolasi ke daerah pinggiran. Rezim akan terus menyerang mereka satu demi satu tanpa kesulitan," ucap Holmboe. 
 
"Jika Aleppo jatuh, itu akan menjadi kerugian strategis bagi para pemberontak. Sekarang tidak ada fakta untuk persetujuan perdamaian,-pada dasarnya Assad akan memenangkan perang," imbuhnya.
Militer Suriah (Foto: AFP)
 
 
Holmboe menganggap akan sangat sulit bagi Barat atau Turki untuk memasok pemberontak di Aleppo,-bahkan kalaupun mereka mau- karena Rusia dan Assad telah melepaskan serangan duet di Aleppo timur.
 
Seperti Ford, dia membandingkan Aleppo dengan pengeboman Grozny, Chechnya. Sarkis Naoum, komentator Arab terkemuka, memperkirakan konflik akan berlarut-larut dalam pemisahan negara secara de facto. Tapi ia menyarankan negara-negara di kawasan itu memilih untuk meningkatkan bantuan persenjataan bagi kelompok pemberontak.
 
"Negara-negara Teluk tidak senang hal ini  terjadi. Mereka bersedia untuk mengulangi pengalaman Afghanistan," tutur Naoum mengacu pada 1980-an ketika mereka menyediakan senjata bagi mujahidin buat melawan Uni Soviet.
 
"Bagi mereka ini adalah perang abad ini," tukas Naoum.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA