Pasukan Nigeria Bunuh 150 Pengunjuk Rasa Pro Separatisme

Willy Haryono    •    Kamis, 24 Nov 2016 11:03 WIB
konflik nigeria
Pasukan Nigeria Bunuh 150 Pengunjuk Rasa Pro Separatisme
Dalan setahun terakhir, terdapat serangkaian protes dari pendukung suku asli Biafra. (Foto: BBC)

Metrotvnews.com, Abuja: Pasukan keamanan Nigeria membunuh lebih dari 150 pengunjuk rasa damai sejak Agustus 2015. Demikian disampaikan organisasi Amnesty International, seperti dikutip BBC, Kamis 24 November. 

Amnesty mengatakan militer pemerintah menggunakan peluru tajam dan aksi mematikan terhadap pendemo pro Biafra yang menyerukan kemerdekaan dari Nigeria. 

Kepolisian Nigeria membantah tuduhan Amnesty, dan mengklaim tidak menggunakan kekuatan berlebihan dalam menertibkan demonstran. Nigeria balik menuduh Amnesty yang dinilai berusaha mencoreng citra negara. 

Laporan Amnesty ini didasarkan pada wawancara dengan hampir 200 warga, yang dilengkapi lebih dari 100 foto dan 87 video. 

Dari beragam tuduhan yang ada dalam laporan Amnesty, terdapat "eksekusi di luar jalur hukum," di mana 60 orang ditembak mati di Onitsha. Mereka dibunuh saat hari peringatan Biafra Remembrance Day pada Mei 2016. 

"Pendekatan brutal untu mengontrol massa ini telah menewaskan sedikitnya 150 orang, dan kami khawatir jumlah sesungguhnya lebih tinggi lagi," kata Makmid Kamara, kepala interim Amnesty untuk Nigeria. 

Salah satu korban dalam laporan adalah seorang pria berusia 26 yang ditembak di Nkpor. Ia berhasil bertahan hidup dan bersembunyi di selokan. Saat persembunyiannya diketahui, prajurit Nigeria menyiramkan cairan asam ke tubuh korban, dan mengatakan dia akan mati perlahan. 

Seorang wanita mengaku berbicara pada suaminya yang terkena tembakan di perut. Suami itu kemudian mencoba mencari pertolongan dengan menelepon dari sebuah kendaraan militer. Sang istri kemudian menemukan suaminya sudah berada di kamar mayat dengan dua luka tembak tambahan di bagian dada. Ia menduga suaminya dieksekusi setelah menelepon. 

Amnesty mengatakan unjuk rasa pro Biafra "sebagian besar berlangsung damai" meski ada beberapa insiden pelemparan batu dan ban ke arah petugas. 

"Tetap saja, aksi kekerasan pendemo tidak membenarkan balasan pemerintah dalam level yang sangat tinggi," ucap Amnesty. 

Negara Biafra

Dalan setahun terakhir, terdapat serangkaian protes dari pendukung suku asli Biafra. Gerakan ini bertujuan menciptakan negara independen -- Biafra -- di wilayah tenggara Nigeria.. 

Percobaan sebelumnya untuk mendirikan negara baru dipicu perang sipil Nigeria sekitar 50 tahun lalu, setelah terjadinya kudeta 1966. Kekecewaan akibat kudeta menjadi salah satu motor pendorong pergerakan Biafra.

Banyak warga Nigeria di wilayah tenggara yang merasa mendapat perlakuan tak adil dari pemerintah pusat atas percobaan kudeta di masa lalu.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA